Foto Keluarga yang Menyesatkan
Monday, March 23
Berwajah lebih muda dari usia sebenarnya adalah anugerah, betul? Tadinya saya memang merasa begitu. Tadinya…
Suami saya, Babe Ndut, punya teman yang selama ini cuma mengetahui saya dari obrolannya dengan si Babe. Suatu saat karena Babe Ndut sedang berhalangan ketemu si teman ini padahal ada sesuatu yang kudu diambil di kantornya, otomatis sayalah yang diutus Babe Ndut untuk mengambilnya. Begitu ketemu saya, wajah si teman ini tak bisa menipu saya: kaget dan seperti tidak menyangka.
“Are you Mrs. Pontoh?”
“Yes, I am.”
“….. Nice to meet you.” Yup, pakai acara ternganga sejenak beberapa detik. And he couldn’t even hide it!!!!!
Setiap kali saya berjumpa dengan teman suami, kekagetan dan keterkesimaan ini tak bisa dihindari. Bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki siapa saja teman suami yang pertama kali ketemu saya, langsung ikutan ngobrol seru dan berbicara ngalor ngidul tak habis-habis. Kepada mereka-mereka ini, saya lalu jadi sangat sayang dan dekat.
Kali lain, seorang teman lagi yang usianya jauh di bawah saya, perempuan muda yang dandanannya sophisticated yang sudah mengenal suami saya duluan sebelum saya. Begitu ketemu saya, dia nggak ada pasang wajah kaget atau apa. Tapi di lain waktu dia bertemu Babe Ndut, dia mengeluarkan komentar begini:
“Mbak Fitri itu mukanya kayak anak kecil banget ya.”
Babe Ndut cuma tersenyum menanggapinya. Pada saat menceritakannya pada saya, Babe bilang gini, “Tapi emang dia keliatan lebih tua banget dibandingin elo.” Good point of view.
Ada satu peristiwa yang baik saya dan Babe Ndut mengenangnya dengan sangat baik dan selalu tertawa terbahak-bahak setiap membicarakannya. Kejadiannya kurang lebih dua tahun yang lalu, saat kami berdua mengunjungi sebuah bazaar.
Ada seorang teman yang baik saya dan Babe Ndut sama-sama nggak terlalu kenal dan cuma sering say Hi doang. Dia juga tampaknya tidak tahu bahwa kami adalah pasangan suami istri. Saya dan Babe Ndut memisah sebentar untuk cari-cari makanan yang masing-masing kami sukai. Di ujung sana, Babe Ndut ketemu dia dan ngobrol basa-basi bentar. Lalu, si teman ini akhirnya ketemu saya dan ngobrol deh kami sekilasan. Beberapa saat kemudian, Babe Ndut menuju ke arah saya sambil menenteng plastik berisi belanjaan. Begitu sampai ke tempat saya, si teman ini nyeplos ke Babe:
“Oooh, Om? Fitri itu anak Om ya?”
Muka merah Babe Ndut segera saya selamatkan, dengan berkata, “Huss, dia suami guee!”
Pulang dari bazaar, Babe Ndut sepanjang jalan bertanya terus pada saya dan jadi sangat self conscious.
“Gue tua banget ya?”
“Enggak,” hibur saya.
“Iya ya gue tua banget.”
“Enggak kok. Guenya yang kemudaan. Guenya yang nggak normal.”
“Iya nih, elu sih kemudaan mukanya,” kata Babe Ndut kemudian dengan santainya. Saya membiarkannya berekspresi penuh kemenangan, yang tentu saja dia bikin untuk meledek saya.
Ada teman-temannya Babe Ndut yang lainnya lagi, yang cukup pandai menyimpan penilaiannya ke dalam diri mereka sendiri, tapi saya tahu kalau mereka sebetulnya sedikit “terkesima”.
Untuk wajah nan “bijaksana” seperti yang dipunyai suami saya, memang wajah saya yang “bijaksini” ini jadi terasa mengkhianati “kebijaksanaan” Babe Ndut. Belum lagi suami saya orang yang sangat serius, DI SETIAP SITUASI. Berbeda dengan saya yang baru serius kalau memang suasananya mengharuskan saya untuk serius. Kalau dalam suasana biasa saja, ngapain serius-serius? Well, saya kira ini soal pembawaan aja. Nggak ada yang lebih benar atau jadi salah. Menurut pengakuan Babe Ndut sendiri, dia baru bisa bercanda dan baru ngerti betapa enaknya jadi orang yang nggak selalu serius, setelah bertemu dengan saya. (Gosh..)
Dari pihak teman-teman saya, kurang lebih hal yang sama terjadi pula. Kaget sedikit, sampai kaget banyak. Tapi karena mereka orang-orang yang sama frekuensinya dengan saya, dan banyak dari mereka yang sudah ngerti gimana saya (dalam artian: they know me so well I don’t have to explain myself), mereka nggak pernah sampai mengeluarkan komentar,
“Mas Coen itu mukanya kayak kakek-kakek ya Fit.”
Tidak, bukan. Saya tidak sedang mengeraskan perbedaan saya dan suami dari segi politik, budaya, hidup, gaya berhumor, gaya bicara, sampai segi lay out dan usia. Memang kami berbeda, tapi nggak segitu-gitunya. Usia saya dengan Babe Ndut juga nggak selisih banyak sebenarnya. Cuma beberapa tahun aja. Tapi memang “anugrah” yang saya punyai ini membuatnya jadi tampak lebih tua berkali-kali lipat. Sementara perwajahan Babe Ndut membuat saya jadi terlihat kekanak-kanakan berkali-kali lipat.
Parahnya, teman-teman masing-masing dari kami jadi punya “kesimpulan” yang lucu dan kadang bikin geli (kadang bikin pengen nggorok juga).
“Mas Coen bakalan betah nggak kalo ntar kumpul-kumpul sama kita?” Seolah-olah Babe Ndut adalah artefak purbakala yang nggak bisa gaul, dan karena diajak gaul, maka terkontaminasi, lalu mati.
atau,
“Fitri itu tahan nggak kalau kau tinggal lama gitu Coen?” Seolah-olah saya adalah anak kecil yang kalau ditinggal sebentar saja maka akan mengoek-oek dan merengek-rengek, lalu mati.
Tanpa bermaksud apa-apa, saya membandingkan lay out saya dengan teman-teman saya waktu masih belia dulu yang saat ini sudah berumahtangga dan beranak pinak pula. Ada yang jadi tampak dewasa sekali, ada juga yang masih tetep setia dengan wajah anak-anaknya (meskipun udah beranak dua biji). Secara umum, wajah teman-teman seumuran saya memang biasanya sudah bermetamorfosa jadi ibu-ibu betulan. Wajarnya memang begini. Normalnya memang demikian. Di samping itu, para suami mereka juga berwajah satu nada. Wajah mereka jika dibingkai dalam foto keluarga, tidak akan menyesatkan mata siapapun yang melihatnya.
“Oh, ini suaminya.”
“Oh, ini istrinya.”
Nggak mungkin akan jadi,
“Ini….. anaknya?”
“Ini…. bapaknya?”
Nah, kalau saya ber-lay out seperti mereka, mungkin tidak akan ada kisah-kisah seperti yang saya sampaikan di atas.
Hal ini nggak cuma terjadi sekali dua kali. Tapi seringgggg.
Kalau pas waras, saya biasanya cuek aja dan nggak memusingkan apa-apa. Hidup terlalu indah untuk mikirin kesan-kesan pertama yang ditangkap orang lain. Yang penting jadi diri sendiri, beres. Tapi kalau pas lagi nggak waras, sering terbit keinginan di saya maupun di Babe Ndut untuk menggolok dan menggorok orang-orang yang into appearance itu. Sewajar apapun sebetulnya alasan mereka.
Saya sempet ngenes ketika mendengar Babe Ndut pengen beli baju blink-blink (and I don’t even like the blink-blink!), hanya agar bisa mengimbangi “mudanya” saya yang sebenernya udah uzur ini. Atau Babe Ndut yang juga sempet ngenes ketika mendengar rencana saya mau memanjangkan rambut dengan alasan, “agar nampak tua” dengan maksud mengimbangi ketuaannya. Bisa deh dibayangkan, bagaimana setelah rambut saya panjang tergerai, ketemu temen di jalan, dan komentarnya adalah: “Fitriiii, kamu keliatan muda belia banget siiih dengan rambut panjangmu ituuuu!”
Jadi diri sendiri selalu lebih enak, bukan begitu? Mari kita lihat sejauh mana adonan “kemudaan” dan “ketuaan” itu akan berujung.
“Dalam bingkai yang menyesatkan itu, elo bisa dibilang meniru jejak Syeh Puji. Memperistri anak-anak. Gimana pendapat loe?” tanya saya pada Babe Ndut. Serius.
“Kalo gue sih asyik aja pokoknya selama dia kagak nyenggol gue… Watawwwwww,” jawab Babe Ndut sambil menggoyang-goyangkan tangannya seperti rapper.
posted by -Fitri Mohan- @ 6:23 PM,
15 Comments:
- At 5:26 AM, nengjeni said...
-
ayo dong.. potonya dipajang ... ;)
- At 8:19 AM, Mariskova said...
-
Si Papap juga sering dianggep anak kecil. Gak tau juga jangan2 gue dianggep tante-tante yang doyan anak kecil huehehehe....
Kemana aja darling? - At 11:04 AM, said...
-
mbak fitri ... gimana khabarnya?
aku bikin blog baru nih.
mampir dan review yah ... dikiiit ajah.
http://mp3anyar.blogspot.com
sukses yah .... - At 1:43 AM, rime said...
-
mungkin make-upnya harus warna2 tua kali mbak, biar dikira tante2 :D
- At 9:29 PM, Pritha Khalida said...
-
Gue awalnya seneng banget kalo ketemu temen lama atau guru waktu skul dan dibilangin, "Ini pasti Pritha!"
Mereka langsung inget tanpa harus mikir lagi. dan katanya emang muka gue nih dari SMP-SMA gini2 aja...
Tapi denger kelanjutannya itu lho yg bikin gue empet, "Lagian Pritha tuh gak nambah tinggi ya dari dulu, jadi gampang banget diinget."
Huaaaaa!!! - At 9:49 PM, OktaEndy said...
-
hihihi..
jadi penasaran pengen ngleliat wajah jeng fitri.
coba dong di pasang.. :)
wah.. pengalaman yang kadang bikin gak enak juga yach hehehe...
anugrah apa musibah? tergantung suasana kali yach.. hehehehe - At 5:53 AM, ika rahutami said...
-
hahaha seru banget fit..
kebalikan dengan aku..
wajahku tua kali ya. temen2 bilang, aku budenya my hubby.. walah..
terus aku merengek.. pls jangan model rambut gitu... dibuat model yang bapak2 dong, perutnya digendutin dikit...
halah.. sindrom tidak percaya diri - At 11:45 PM, Sekolah Pramugari said...
-
Selamat Siang… Salam Kenal dari Balikpapan… Boleh bertukar link..? :)
- At 2:22 PM, accordingtod said...
-
Waaa... great minds think alike. [Ampir] samaan postingannya sama gue http://accordingtod.wordpress.com/2009/03/25/age-denial/
Hi hi, gimana dong yah... awet muda siiiih :p - At 2:51 PM, almascatie said...
-
awet muda dong kalo gitu bu hehehhe....
- At 6:33 PM, -Fitri Mohan- said...
-
@nengjeni: lhooo, kan bisa ditengok2 di jejaring sosial yang kita ikutin bareng. ;) postingan yang sama ada di sana juga.
@mariskova: dirimu yang kemana ajaaaaa.
@mp3: kabar baik, makasih ya. kok di situsnya nggak dikasitau who-nya? kasitau dong ah, biar saya nggak buta.
@rime: nasib muka gue emang nggak boleh make up-an sampe meblok meblok nih. gue pake make up tua2 malah dikira ikutan halloween. hiks.
@pritha: hahahahaha, nggak papa prit. yang penting kan hepi dan nggak mengundang nafsu pengen nimpuk.
@oktaendy: tergantung mood sih kalo ini, hehehe.
@ikarahutami: heheheh, macem2 juga ya cerita kita ini.
@sekolah: silakan.
@dini: diiiiiin, iya gue liat ada mirip2nya dikit. postingan gue ini sebelumnya udah gue posting di FB sih. i never deny my age btw. hihihi. yak benerr, awet muda siiih, gimana dong? *winking ganjenly*
@almascatie: maunya begitu mas. :-) - At 10:26 PM, MAY'S said...
-
Mbak Fit, banyak bersyukur ya.... dikaruniai kebahagiaan yang luar biasa dengan suami... salam ya.. untuk suaminya... :)
- At 9:29 AM, awi said...
-
asyik ya Fit tetep awet muda
gak perlu minum antiaging atau anti2 yg lain hehe - At 5:20 AM, Immayawati said...
-
ha..ha..ha..aq jg sering punya pengalman yg mirip2 kayak gt..(jd bikin geer sekaligus was2)..bbrp clientku(rata2 young couples) yg mau bikin interior ato konsultasi tau aq dr client2 sblmnya(dr mulut ke mulut gt)contact aq, bbrp kali kami ngobrol by phone n email..saatnya ktmuan u ukur ruang n so on(kdg2 aq dtg bsama misoaku), mrk sllu blg.."wah tnyta msh muda2 ya..sy pikir sdh ibu2 dan bpk2..kalo gt sy panggil mbak ato dik ya.."..wah..geer..tp dlm hati pngn bngt blg kalo kami tuh sdh uzur( over 43 n 45th),dgn anak yg udah SMP kls 2..tp gak enak sm mrk krn mmg tampaknya kt sptnya seumur ato malah kdg lbh muda dr mrk..was2nya, tkt misoa mrsa muda trs kmd berkelakuan aneh2..hiii..jgn sampe dech!!
- At 1:27 PM, best rental Komputer & Laptop said...
-
Jiahahah Muke Ogut lebih tua dari umur nieee...
Gimanaaaa Yaaa ?











