Fantasi Tiada Batas Buku Anak-Anak
Monday, February 23
“Now, I will tell you a story.”
Kalimat ini adalah senjata ampuh saya saat menjadi guru bahasa Inggris untuk anak-anak lima sampai tujuh tahun untuk membuat kelas berhenti dari kegaduhan. Semua mata berbinar dan mereka bersiap dengan posisi masing-masing untuk mulai mendengarkan saya membacakan buku anak-anak. Dengan berbagai tokoh mulai orang, hewan, peri, kurcaci, hantu, mainan, pepohonan dan lain sebagainya, cerita di dalam buku anak-anak bisa berkisar tentang apa saja. Mereka selalu menikmatinya.
Saya senang membacakan dongeng untuk anak-anak. Salah satu alasannya adalah karena saya suka melihat tampang anak-anak pada saat didongengin. Ada yang jadi melongo atau kemudian nyureng serius; boleh jadi itu ekspresi saat sedang terbang dalam imajinasi.
Persediaan imajinasi dalam buku anak-anak biasanya disampaikan penulisnya dengan mempertimbangkan tingkat membaca, tingkat kosa kata dan juga psikologi anak. Makin muda usia anak, makin sederhana cerita dan gambarnya. Buku serial Tini misalnya, yang saya baca pada jaman balita, diberikan Ibu ke saya dengan sengaja karena saya sudah bisa membaca pada umur tiga tahun. Besar sedikit, saya bertemu Bobo dan Kuncung. Semua cerita yang saya baca saat itu, biasanya berakhir bahagia.
Jika ada buku yang dibaca dengan sengaja, ada pula buku-buku atau majalah yang terbaca dengan tak sengaja. Seperti ketika kakak saya yang saat itu sudah SMA memergoki saya asyik membaca Anita Cemerlang miliknya.
“Itu bukan buat anak SD. Nanti kalau sudah SMA, baru boleh baca,” begitu katanya sambil mengambil majalah dari tangan saya. Wah, belum tahu aja dia saya sudah ambil dan baca apa dari lemari bukunya….
Saat itu rasanya saya nggak kenal mana buku anak-anak dan bukan buku anak-anak. Asal ada hurufnya dan bisa dibaca, saya pasti akan lahap. Nama dan jam praktek dokter di resep obat, komik Mahabharata, Raumanen-nya Marianne Katoppo, Juke Tamomoan-nya Motinggo Busye, atau rubrik Oh Mama Oh Papa-nya majalah Kartini, adalah sedikit contohnya. Di rumah, ada perpustakaan sendiri dengan isi sebagian besar buku-buku cetakan Balai Pustaka, buku komik aneka macam, dan majalah anak-anak. Karena sudah saya baca semua, maka buku milik para manusia dewasa di rumah itu pun lalu saya ambilin satu-satu dan saya baca. Jika lama mereka tak tampak mencari-carinya, saya lalu mengklaimnya sebagai “milik perpustakaan”.
Tentu saja mengkategorikan mana buku untuk anak-anak dan mana yang bukan adalah ditujukan demi kemaslahatan psikologi si anak. Tapi jika kemampuan dan daya baca sudah ada, berpadu dengan keingintahuan anak kecil yang selalu merasa ingin mencobai ini itu, tidak mengherankan juga ada anak usia SD yang sudah membaca Digital Fortress-nya Dan Brown, seperti yang terjadi pada Ariotomo, anak lelaki berkacamata yang sudah menginjak bangku SMU meskipun usianya baru 14 tahun. Sementara Putri yang kini menjadi siswi SMP, bilang pada saya bahwa dia suka dengan buku kumpulan cerpen Bobo dan buku teenlit pada saat ia masih SD. Saat itu, dia juga sudah membaca Arok Dedes karangan Pramoedya Ananta Toer.
Mereka kekurangan bacaan anak-anak-kah?
Bisa jadi, tapi belum tentu. Jika mengingat bagaimana orangtua mereka mampu membelikan buku-buku anak dan bahkan meluangkan waktu untuk bersama-sama memilihkan, tentu saja ini adalah sebuah keberlimpahan. Tapi jika menyaksikan bagaimana cepatnya anak yang sudah bisa membaca, menyerap, dan melahap buku, apa yang sudah dibeli itu bisa terasa sangat kurang.
Penulis buku anak-anaknya sendiri memang ternyata juga tak banyak, apalagi yang terkenal. “Penulis cerita anak Indonesia yang terkenal mungkin sangat minim jumlahnya. Menulis cerita anak itu tidak segampang kelihatannya. Butuh ketrampilan tersendiri. Menjadi penulis cerita anak mungkin seperti melintasi jalan yang sunyi, diam-diam, dan kurang diperhatikan. Mungkin juga menjadi penulis cerita anak adalah semacam pengabdian seperti seorang guru. Tapi seorang penulis cerita anak yang menulis karena passion, tidak akan berhenti menulis cerita anak hanya karena royalti kecil, tidak diperhitungkan, atau hal-hal semacam itu,” papar Renny Yaniar, penulis buku anak yang sudah menerbitkan 96 judul buku sejak tahun 2000 dan juga pencetus proyek buku gratis rumah riang dalam obrolannya dengan saya.
Ketika mengingat-ingat siapa penulis anak-anak Indonesia favorit saya, yang saya ingat malah HC Andersen dan Roald Dahl, pengarang yang membawa imajinasi saya berloncatan dengan liar. Indonesia dari bagian mana mereka ini berasal? Renny Yaniar menyebutkan nama Dwianto Setiawan dan Bung Smash pada saya, sebagai penulis anak Indonesia yang cukup sering ia baca dan sukai.
“Siapa penulis anak-anak favoritmu?”tanya saya pada Ari dan Putri.
“JK Rowling,” ini jawaban Ari dan Putri. Begitu juga dengan keponakan saya, Hani.
“Gimana dengan Sophie Kinsella?” tanya saya lagi, iseng, kali ini pada Putri dan Hani.
“Yah, Tante, katanya penulis buku anak-anak? Sophie kan penulis chicklit.”
“Tahu dari mana?”pancing saya.
“Kan aku udah baca.”
Jika dibandingkan dengan buku teenlit, chicklit, dan lit-lit lainnya, buku anak-anak di Indonesia memang sepi. Penulis buku anak-anak mungkin bisa dihitung dengan jari.
Minat jadi penulis buku anak-anak, meskipun jalannya mirip pengabdian seorang guru pada muridnya, bukannya tak ada. Saya melihat besarnya animo dan antusiasme orang-orang untuk mengirimkan cerita anak-anak karyanya pada sebuah komunitas blogger. Beberapa diantaranya kemudian bahkan menerbitkan buku anak-anak.
Rentang usia anak-anak yang juga luas, dari 0 hingga 12 tahun, memiliki tantangannya tersendiri untuk para penulis. Seorang teman saya yang baru-baru ini mengutarakan keinginannya untuk menulis buku anak-anak berkata, “Bingung gue. Tulisan yang gue bikin ini pasnya buat anak umur berapaan ya?”
Di Barnes & Noble, Gramedia-nya Amerika, ada area khusus buku untuk anak-anak yang cukup luas. Buku belajar membaca, buku ilmu pengetahuan sampai buku cerita dengan berbagai kategori umur anak-anak, mudah didapatkan. Buku pengetahuan terkini juga terus diadakan, sebagai contohnya adalah buku yang bercerita tentang Barack Obama. Cerita tentang Obama ini meskipun disajikan dengan simpel dan penuh gambar, tetapi isinya mencakup sejarah singkat yang terbilang cukup lengkap untuk ukuran anak-anak. Namun demikian, usia anak yang disasar penulis buku ini bisa jadi malah sudah lebih tertarik membaca yang lebih kompleks dari itu.
Saya ingat saat saya dan keponakan saya yang saat itu masih kelas tiga SD, sedang duduk bersama diam-diam di kamar, membaca masing-masing dengan kekhusyukan yang tinggi: buku Harry Potter. Di kamar keponakan saya saat itu, ada buku anak-anak lain yang sudah dibelikan Ibunya untuknya. Tetapi, ia lebih tertarik untuk “menghabisi” Harry Potter duluan. Padahal cerita di Harry Potter tak berkisah tentang si Kancil dan Buaya, atau Putri Cantik yang senang membantu Ibu. Cerita di Harry Potter tak hitam putih. Tokohnya tak cuma dua kubu. Jalan ceritanya pun amat kompleks.
Renny Yaniar, yang sudah berhasil menerbitkan buku secara independen dari koceknya sendiri dan kemudian membagi-bagikannya secara gratis untuk anak-anak yang tak mampu membeli buku ini mengaku kepada saya, bahwa dia sendiri lebih banyak menulis untuk anak-anak balita dan anak-anak usia sekolah dasar.
“Setahu saya, buku-buku untuk bayi sampai 2 tahun belum banyak di Indonesia. Tapi buku-buku impor sudah ada. Misalnya buku yang terbuat dari kain atau plastik yang bisa dibawa saat mandi. Buku-buku untuk balita, TK, dan kelas 1-4 SD sudah banyak variasi dan jumlahnya. Tapi untuk usia 10-12 rasanya jumlah dan variasinya masih kurang. Mungkin dianggap kurang berhasil oleh penerbit, jadi tidak banyak diproduksi. Yang pasti, jika ingin menjadi penulis buku anak-anak, isinya harus bisa dimengerti anak-anak, dan menghibur.”
Di luar soal minat baca anak, produksi buku anak-anak di Indonesia memang nggak seheboh produksi buku-buku novel dewasa. Buku anak-anak yang saya jumpai biasanya tone-nya cerah ceria, pesan moralnya jelas, dan kehidupan di buku anak-anak itu selalu sukses bikin saya sirik. Bahagia melulu soalnya. Barangkali ini alasan kenapa saya menggemari Harry Potter ciptaan JK Rowling yang jadi favorit anak-anak itu. Nggak bikin saya sirik.
posted by -Fitri Mohan- @ 5:30 PM,
18 Comments:
- At 9:11 PM, karangsati said...
-
anak kecil baca lit-lit, jangan-jangan bisa kayak sinetron indonesia ceritanya... sirik-sirikan ama pacar-pacaran hehehe...
- At 11:08 PM, Fenty Fahmi said...
-
Bukannya biasanya, "Once upon a time" ?? :D
hehehehe.... walah anak2 itu sudah membaca buku Sophie Kinsella padahal ada adegan sex-nya ?? wuudduuuh, gaswat banget dong itu ...
And yeah, I love Harry Potter too ... dan tambahkan Narnia, walau lebih suka filmnya :p - At 2:56 AM, OktaEndy said...
-
aku juga agak heran kalo Harry Potter itu bacaan anak2.
padahal ceritanya kompleks gitu.
waktu aku kecil yang aku baca bobo, deni si manusia ikan, paman janggut, hehehe..
Berminat menulis buku untuk balita Jeng? - At 2:38 PM, Daniel Mahendra said...
-
Jadi senyum-senyum sendiri mengetahui anak dengan usia seperti itu sudah membaca Digital Fortress atau Arok Dedes.
Di Indonesia sebetulnya ada banyak penulis buku anak. Namun (barangkali) tak semua penulis buku anak tersebut betul-betul menulis buku untuk anak.
Banyak orangtua masih berpikir: mengapa mesti menyodorkan buku pada anak... - At 1:47 AM, endangcinta said...
-
untuk buku Harry Potter sendiri ada hal yang lucu jadinya. Ada orang yg nggak mau baca krn merasa itu buku anak2, jadi seolah,"malu ih org gede baca buku anak2".....*iya i know elu tertawa guling2an*....padahal di sisi lain ada jg yg heran kalau bukuitu untuk anak2 krn ceritanya kompleks (OktaEndy)....
buat gue sendiri sih.......tidak ingin membatasi seperti itu. Gue jg baca Bobo kok, mang nape? hehehe...dan memang tidak semua anak bisa menikmati Harry Potter salah satunya karena kompleksitasnya itu mungkin.
*menyimak lagi di pojokan* - At 8:08 AM, said...
-
Penulis Indonesia, yg juga menulis buku anak, favorit saya saat ini adalah Clara Ng. Buku anak-anak yang dia buat, bagus-bagus sekali :)
Saya yang enggak punya anak juga jadi suka koleksi buku-bukunya. - At 8:17 AM, Yoga said...
-
Mbak, saya suka tulisan ini. Bagus sekali. Saya masih ingat Tini, HC Andersen dll sama halnya dengan saya ingat Dwianto Setiawan dan Bung Smash, meski saya lupa-lupa ingat isi tulisannya apa, tapi dua nama itu nggak lupa deh. Selain isi tulisan, ilustrasi untuk buku anak-anak juga penting dan berbicara banyak. Masih ingat nggak lilustrasi Tini ketika memasak spaghetti? :)
- At 8:47 AM, yati said...
-
saya udah coba nulis cerita anak tapi ga tau mau dikemanain. belum pernah saya ujicobakan ke anak kecil sih...malu(malu kucing) :p
nantilah kalo udah pulang ke kampung, saya ujicoba ke ponakan2 saya - At 10:44 PM, nengjeni said...
-
saya masih baca donal bebek setiap minggu, rebutan ama si mas dan adek ... :D
- At 5:55 PM, accordingtod said...
-
setujuuuuuuuuuuu...
*apa coba?*
jadi inget jaman kecil dulu. lima sekawan, komik nina, hans christian andersen, jarang nemu penulis indonesia yang mumpuni.
tapi ini kan dari jaman kuda dulu, kalik sekarang udah banyak penulis buku anak yang t-o-p? - At 9:30 PM, xxx said...
-
Setelah lihat blog mantan muslim ini jadi kepengen murtad!
Klik> FORUM MURTADIN (ex-muslim) INDONESIA
Klik> Antara Islam dan aliran sesat
Pusing aku... - At 4:34 AM, mister.i.us said...
-
anak2 skarang bruntung ya punya akses ke banyak buku, kalo denger cerita2 orang tua dulu yang susahnya minta ampun untuk bisa beli (ato pinjem) buku jadi iri rasanya sama anak2 skarang itu..hhehe, saya sendiri bukan termasuk orang tua dulu itu tapi tmasuk yg agak susah mengakses buku krn perpustakaan umum jarang ada d kota kecil, bahkan sy baru baca lima sekawan waktu SMA*jadi malu*
- At 12:05 PM, --ambar-- said...
-
jeng fitri, ditunggu buku anak2nya. Semoga ada penulis seperti JK Rowling yang membawa anak2 ke imaginasi yang kreatif
- At 10:50 AM, Kepingan Hati said...
-
Thanks untuk infox...
Good Posting !! - At 2:03 PM, ndahdien said...
-
menurutku malah sekarang banyak banget pilihan buku anak, kemasan bukunya juga makin cantik. ada buku anak tentang kisah nabi, teladan anak sholeh, dongeng klasik dalam&luar negri dan masih buanyak lagi ampe bangkrut dipesenin buku ma ponakanku yg baru bisa baca.
tapi kalo cerita sekelas harry potter, unfortounetly event, narnia dll emang masih jarang. - At 2:19 AM, MAY'S said...
-
Jujur, Mbak Fit... banyak penerbit yang menolak tulisan cerita2 anak, dan lebih menyarankan penulisnya untuk menulis cerpen atau novel dewasa....
- At 6:49 PM, -Fitri Mohan- said...
-
@karangsati: hehehe, bisa jadi begitu nanti ceritanya. :-)
@fenty: once upon time itu buat jaman dulu. Jaman sekarang kalo toh ada once upon a time, biasanya trus kreatif belakang2nya.
@okta: waduh, kepingin doang nih mas. Belum berani nulisnya.
@daniel: betul, penulis buku anak2 yang ada biasanya juga menulis untuk dewasa, dan nggak ada salahnya juga. Tapi orangtua yang berpikir mesti nyodorin buku pada anak? Jaman sekarang apa masih ada yang mikir begitu?
@endang: betul, gue masih sangat menikmati buku anak2 tanpa merasa malu dianggep anak2. Ibu gue contoh nyata penikmat donal bebek tanpa menyembunyikan tawa, nyengir, atau senyum2nya.
@veridiana: saya malah baru tau kalo clara ng juga nulis buku anak. Senang sekali makin banyak yang bikin dan keren-keren pula ceritanya ya.
@yoga: makasih ya jeng. tini udah lama banget, lupa rasanya yang mana yang pas masak spaghetti. :-)
@yati: keponakan emang manjur tuh buat jadi bahan percobaan. :p
@nengjeni: samaaa kayak ibu saya dulu mbak.
@diny: sekarang udah banyak emang, tapi masih lebih banyakan penulis novel gede. Gue nggak menitikberatkan pada banyak enggaknya penulis buku anak yang top, tapi banyak enggaknya bacaan anak2 yang ditulis penulis Indonesia. Nggak harus dari Indonesia sih sebenernya, kalau mau ngomongin variasinya. Tapi kan seru juga tuh kalo ada penulis anak-anak Indonesia yang berjaya kayak dulu lagi.
@misterius: iya, saya juga iri sama anak2 jaman sekarang dalam soal akses ke banyak buku. Eh, jangan malu2 mbak/mas :-)
@ambar: waduhhh, hehehe, aku belum bisa bayangin mau nulis buku anak2. Nulis buku anak susahnya berlipat2 ketimbang buku novel. JK Rowling sih nggak ada matinya. :-)
@kepingan hati: sama-sama.
@ndahdien: iya, kalau dari segi variasi dan akses, lebih bagusan yang sekarang.
@mays: ohya? Nah, ini fakta lagi nih. Thanks for the info ya may. - At 11:23 PM, said...
-
Intinya memang buku apa yang bagus buat anak-anak, dan apakah orang tua mau memberikannya pada mereka, tak peduli mau siapa yang menulis atau dari mana inspirasinya.
Saya pribadi suka nyari2 cerita rakyat tradisional berbagai negara di internet (www.sacred-text.org punya banyak cerita rakyat berbahasa Inggris), dan penulis2 buku anak dari luar kayak Philip Pullman, Jacqueline Wilson, Robert Wolfe, dan Kate DiCamillo. Terutama Jacqueline Wilson yang bisa menggarap tema2 berat kayak anak bermasalah, anak korban perceraian, KDRT dengan bahasa simpel dan dari sudut pandang anak2. Dia sendiri mendapat gelar Children's Laureate. Golden Compass saja inspirasinya dari buku yang sangat "berat", Paradise Lost-nya John Hamilton. Buku2 ini atau Harry Potter dsb mungkin bisa dibilang khusus buat young reader, tapi belum bisa dibilang teenlit. Kalo dari gaya bahasa, terkesan mereka ini mengajak anak2 berfantasi tanpa "menggampangkan" daya pikir mereka. Di http://www.wikipedia.org. entry children literature, pembaca aja sampe digolong2kan menurut umur.
Mungkin ini salah satu problem bagi penulis2 buku anak, maaf, young reader, di Indonesia. Sudah sulit bagi kita yang dewasa untuk berfantasi bebas dan kembali berpikir dari sudut pandang anak2. Karena itu ada yang nanya "eh ini pantes gak ya buat anak-anak ?" Setelah selesai menulis.
Btw, kan ada penerbit yang khusus nerbitin buku anak2 dan young reader (bukan teenlit !). Misalnya : Liliput dan Kakatua di Yogya. Yang terakhir baru berdiri, dan menerima kiriman naskah lewat email (saat ini baru ada 3 buku yang diterbitkan). Coba aja klik www.penerbitkakatua.blogspot.com











