Mr. O


Saya termangu.

Jauh sebelum 20 Januari tiba, tepatnya sejak kemenangan Obama pada pemilu November tahun lalu, atmosfir kota New York di manapun saya menapakkan kaki atau bertukar sapa terasa berbeda. Jika sebelumnya orang-orang nampak murung atas terjangan krisis yang menimpa, setelah hasil pemilu November diumumkan, keriangan dan harapan terasa jelas dimana-mana. Tentu saja ada yang apatis dan bahkan tak peduli pada apa yang terjadi layaknya yang bisa ditemukan di setiap pojok dunia. Rasanya, saya termasuk satu dari golongan terakhir ini, jika mengingat betapa enegnya saya terhadap apapun yang dijungkirbalikkan dalam dunia politik.

Maka, saya sendiri tak menyangka jika kemudian saya memutuskan untuk memelototi layar kaca pada prosesi pengambilan sumpah Obama di Washington DC 20 Januari lalu. Sebetulnya jika saya sedang tak terkena teror menstruasi dan cuaca tak berasa seperti 10 derajat Fahrenheit (sama dengan minus 10 derajat Celcius), saya meniatkan diri pergi ke Washington DC sebagaimana teman-teman saya. Mereka begitu antusias ingin menyaksikan langsung dan menjadi bagian dari sejarah di tempat Obama dilantik menjadi presiden.

Ini pertama kalinya saya melihat prosesi pengambilan sumpah presiden Amerika Serikat di negeri Paman Sam di mana presidennya sendiri adalah presiden pertama di Amerika yang berkulit hitam.

Hal yang sangat kentara adalah betapa banyaknya manusia bejibun di tengah cuaca yang sebanding dengan berada dalam kulkas. Meskipun tampak penuh, dilaporkan tak ada keributan dan tak ada keluhan. Wajah-wajah orang yang memenuhi National Mall persis wajah-wajah orang yang sedang menikmati musim panas di Central Park. Penuh senyum dengan mata berbinar-binar. Tua muda, anak-anak, orang dewasa, dari seluruh ras bisa dijumpai di sini. Para selebriti yang tampak diantaranya Tom Hanks, Dustin Hoffman, Sharon Stone, dan mantan petinju Muhammad Ali. Betul-betul sebuah komitmen.

Bisa dimengerti jika mereka – yang di tahun-tahun sebelumnya lebih memilih untuk melihat inagurasi presiden Amerika di tivi - sekarang rela menyaksikan langsung di tempat sang presiden diambil sumpahnya. Nilai sejarah momen 20 Januari ini memang tak main-main. Latar belakang Barack barangkali adalah satu dari sekian alasan. Barack Obama terlahir dari orangtua berbeda ras dan sempat mengecap bermacam budaya saat dia tumbuh dan beranjak dewasa. Indonesia salah satunya. Sementara istrinya, masih bisa dilacak bahwa buyutnya adalah budak semasa hidupnya.

Martin Luther King dalam wawancaranya dengan BBC pada tahun 1964 memprediksi bahwa Amerika akan memiliki presiden kulit hitam “Twenty five years from now”. Prediksi aktivis African American yang saat itu masih menyebut kulit hitam sebagai negro dan terkenal dengan pidato “I have a dream”nya memang sangat optimis. Berbeda dengan survey independen yang dilakukan tahun 2001, yang rata-rata prediksinya mengatakan bahwa Amerika akan memiliki presiden kulit hitam 25 hingga 100 tahun mendatang.

Yang terjadi kemudian, tahun 2009, presiden kulit hitam pertama hadir di Amerika. Sejak November 2008, penjualan pin, sticker, koin, jam tangan dan macam-macam merchandise bergambar Obama kemudian marak digelar dimana-mana.

Bagi Martin Luther King, 20 Januari kemarin adalah perwujudan mimpi dan prediksinya (yang kepleset 10 tahun saja). Sementara bagi rakyat Amerika, 20 Januari kemarin adalah hadirnya harapan baru agar perekonomian yang karam pulih kembali, juga hadirnya kebanggaan memiliki presiden yang alhamdulillah nggak bego seperti pendahulu sebelum ini, juga artikulatif dan visioner.

Saya sebetulnya bertanya-tanya, kalau perekonomian Amerika tidak sedang ambruk dan masih lempeng-lempeng saja, apa iya Obama bakal menang? Mengingat bagaimana pasangan Republik McCain dan Palin dari polling yang digelar, sebelum kasus ambruknya perekonomian, cukup populer. Juga mempertimbangkan bagaimana warga Amerika - terutama the youth dan perempuan - dalam pemilu yang lalu menurut laporan di koran-koran besar seperti The New York Times dan Washington Post tidak berpartisipasi dalam pencoblosan. Gelombang seruan untuk mencoblos di masa pemilu kemarin kemudian begitu meluas. Leonardo DiCaprio adalah salah satu tokoh yang cukup getol menyerukan kepada anak-anak muda untuk mau sedikit saja peduli pada politik: "come on, register to vote!".  Begitu kasus Lehman Brothers mencuat, hasil polling masih menunjukkan posisi yang sama antara McCain-Palin dan Obama-Biden dengan kecenderungan Obama menang sangat tipis. Namun buramnya perekonomian juga mulai terasa. Pada saat pemilihan umum berlangsung, tampak bagaimana anak-anak muda, juga kaum perempuannya antusias melakukan haknya untuk memilih di bilik suara. Dan hasil dari pemilu di awal November tersebut, ...... voila! Obama menang. Barangkali ambruknya perekonomian di Amerika adalah faktor “blessing in disguise” buat Obama. 

Washington DC biasanya melakukan inagurasi tanggal 4 Maret. Namun sejak transisi kekuasaan dirasa begitu lama dihitung dari November, maka 20 Januari menjadi kesepakatan pengangkatan presiden sejak beberapa pemerintahan yang silam.

Pada 20 Januari 2009, sudah sejak dini hari masyarakat bersiap menyambut pasangan paling berkuasa di Amerika.

Jika semua orang di National Mall terlihat krukupan dan membungkus diri dalam beberapa lapisan, tak begitu dengan Michelle Obama. Perempuan cantik modis yang tinggi dan gagah ini hadir tanpa balutan yang mencerminkan sedang kedinginan. Ia bahkan memakai rok dengan betis yang tak dilindungi leg warmer. Berbeda dengan Jill Biden, istri wakil presiden Joe Biden yang memakai coat merah dan membuat saya paham bahwa, “Oooh, kamu kedinginan.”

Ada yang saya sukai dari cara Obama memperlakukan istrinya saat berada di gereja maupun White House. Setiap kali mau masuk mobil, meskipun ada pasukan Secret Service yang sudah membukakan pintu buat Renaissance (code name-nya Michelle), Obama selalu tetap mengantarkan istrinya masuk dulu, baru setelah itu dia pergi ke sisi pintu buatnya.

Sepanjang jalan dari White House menuju Capitol Hill yang berjarak kira-kira 12 menitan memakai mobil, mereka dielu-elukan, “Yes we can. Yes, we can.”

Ohya, saya sempat merasa geli melihat murid-murid SD Besuki di Jakarta yang disyut secara live bersamaan dengan prosesi Obama dilantik presiden. Keliatan banget anak-anak yang lucu itu disuruh behave sama gurunya. Sok-sok merhatiin tivi dengan cermat. Oh well, televisi memang gudangnya menciptakan segala angle agar sesuatu menjadi lebih dramatis. Saya nyaris mengingat sinetron yang saya benci. Tapi tak lama kemudian, perhatian saya kembali ke podium tempat pengambilan sumpah akan dilaksanakan.

Usai Joe Biden diangkat menjadi wakil presiden, pukul 12.05 waktu Timur Amerika, Barack Husain Obama diambil sumpahnya (dengan sedikit kesalahan dari Chief Justice yang nampaknya grogi mengambil sumpah Obama), hingga kemudian keluar dari Obama kalimat, “So help me God.” Momen setelah itu adalah momen yang menaikkan bulu-bulu di tangan dan di kuduk. Begitu overwhelming. Tangisan kebahagiaan menjalar. Orang-orang yang tak saling kenal saling memeluk dan mencium.

This is a celebration, and I’m just glad to be here,” tutur salah seorang warga.
Now, I believe that I can do anything I want,” kata seorang remaja tanggung berkulit hitam yang wajahnya dipenuhi air mata.

Pidato Obama setelah itu menurut saya adalah pidato yang jujur dan realistis. Tidak berbunga-bunga dan tidak penuh janji-janji. Singkat, tidak berupa perayaan, dan berisi banyak ajakan untuk langsung bertindak nyata. Dalam pidatonya, Obama benar-benar mengikutsertakan semua orang, semua aliran, semua agama, bahkan yang tak beragama. Tidak ada yang eksklusif dalam pidatonya. 

Malamnya, saat dansa pertama, lagu At Last yang dibawakan Beyonce mengiringi Mr. O dan istri. Saya merinding dengarnya. Dan kawan saya menelpon sambil menangis terharu.

Seperti apa Obama memimpin, kita semua bisa melihatnya dalam empat tahun ke depan nanti. Sebaiknya tidak ada harapan yang terlalu membumbung tinggi dialamatkan padanya, daripada kecewa di tengah jalan karena ternyata mister O tak sehebat yang sudah dielu-elukan selama ini. 

Untuk saya pribadi, cukup hari Selasa itu saja menganggap mister O sebagai presiden yang sangat bersejarah di sepanjang momentum politik Amerika. Lewat hari Selasa, ia adalah presiden biasa yang kudu menunjukkkan kinerjanya ke hadapan semua orang sebagai murni presiden, tanpa embel-embel kulit hitam lagi. Itulah kenapa dia jadi bersejarah bukan? Nothing is merely white or black anymore.

Mr. O, you’re looking good. Now, let’s get to the business.


picture from here

posted by -Fitri Mohan- @ 11:09 PM,

12 Comments:

At 2:23 AM, Anonymous hedi said...

[Saya sebetulnya bertanya-tanya, kalau perekonomian Amerika tidak sedang ambruk dan masih lempeng-lempeng saja, apa iya Obama bakal menang?]

Aku kira karna obama bertipe negarawan, amrik udah lama ga punya sosok itu. Mirip soekarno, terutama keahlian orasinya.

 
At 2:48 AM, Blogger MAY'S said...

setuju sama mas hedi, soso dan pribadi yang dimiliki Mr. O memang sangat dirindukan amerika. hingga dunia pun banyak berharap padanya. tapi ya... kita dapat melihatnya 4 tahun ke depan...
mbak fit apa kabar?? sehat kan?

 
At 6:29 AM, Blogger Fenty Fahmi said...

Iya, orasinya itu loh ... semoga gak cuma sekedar impian ya, mbak Fit :D

 
At 10:24 AM, Anonymous rymnz.v.4 said...

iyah neh tapi koq market responnya kebolak yah.. dibawah 8rb lagi (detik ini) bikin lower lowest lg ngefeknya ke BEI neh (baca saham saya diposisi nyangkuter) :D...

 
At 1:28 AM, Anonymous Endang said...

Duh,cuma di Indonesia 2th aja berharap bakal perhatiin Indonesia...eh, pidatonya kok mirip SBY :"bersama kita bisa"...heheheheh

 
At 11:01 PM, Anonymous winawang said...

Obama memang menarik.
Banyak yang menaruh harapan pada Obama, termasuk Indonesia...

 
At 8:56 AM, Blogger Devina said...

Gue gak tau bagaimana berita di media massa US, tapi di koran, tv, radio Indonesia, tiap2 kali nyebut nama Obama pasti juga nyebut jumlah tahun dia pernah sekolah di Indonesia... And after awhile, I really get very bored.

btw, I admire his speech.

 
At 5:42 PM, Blogger -Fitri Mohan- said...

@hedi, fenty: betul, dia memang keren-keren pidatonya.

@mays: kabar baik jeng. dirimu sehat juga ya, amien. :-)

@memed: bacaan ekonominya sekarang gimana?

@endang: banyakkah yang ngarep2 gitu di indonesia? itu mah mengkhayal dot com kali yak.

@winawang: sampe sekarang signifikansinya langsung sama indonesia masih belum ketahuan, kecuali dia kangen nasi goreng, rambutan dan bakso aja. :p

@devina: disini pas menjelang pemilu 2008 kemaren emang seru dan tegang, terutama karena males bayangin si McCain-Palin yang menang. secara pas debat bener2 keliatan premannya tuh para kontestan Republican itu. begitu udah ketahuan dia yang menang, ya udah biasa lagi. btw, disini nggak sering2 nyebut (jarang bahkan) soal Indonesianya.

 
At 1:05 PM, Anonymous mrpall said...

barack Obama memang asik kliatanya soalnya laen.
Banyak yang menaruh harapan pada Obama, termasuk Indonesia...

 
At 11:14 PM, Blogger semuasayanganna said...

orang indonesia heboh obama jadi presiden. segitunya yaa?? aku enggak suka dia jadi presiden, kecuali bisa balikin dollar ke angka duariburupiah. uahahhaa..

 
At 12:27 AM, Blogger yoxx said...

kira-kira dia pro-palestine gak ya?

 
At 1:07 PM, Blogger ndahdien said...

kmrn sempet enegh krn semua media indo secara brlebihan mnyorot Obama sampe ke hal2 ga' penting ttg... ahh ntar ada yg kesinggung klo gw bilng ga' penting hehehe..
4jempol deh buat Mr. O, dari penampilan & gaya bicaranya emang memikat!

skrg enegh ngliat poster2 narsis para caleg dijalanan, fuihhh 9 april makin deket...ikut milih ga' ya? Tp klo DiCaprio yg ngajak nyoblos sapa yg bisa nolax ^_^

 

Post a Comment

<< Home