Anak Kecil Seperti Tante-Tante

Saya tidak merasa terganggu kalau ada anak kecil yang ikut nongkrong bareng ibunya lalu matanya kesana kemari dan asyik sendiri. Barangkali aktivitas nguping si anak ini saja yang patut diwaspadai apalagi jika Ibunya punya kegemaran ‘nenangga’, atau bergosip ria dengan mulut yang maju mundur heboh nggak karu-karuan.

Saya agak merasa terganggu dengan anak kecil yang asal nyeplos tidak sopan dan orangtuanya kemudian malah memuji ceplosan nggak sopannya itu. Misalnya seperti ini:

“Tante tahu nggak, si X itu kan anaknya kelihatan kalem tapi nakal. Ibunya aja belagu. Kata Mama, Ibunya suka godain laki-laki. Ya kan Ma?”

Dan si Mama ini kok ya menganggukkan kepala dengan pasti. Tidak merasa ada yang salah dengan omongan si anak. Sementara saya sudah mengerutkan kening, ingin bilang sesuatu yang mengingatkan si anak, tapi ujung-ujungnya saya cuma bilang, “Hayo, anak kecil kok gosipnya udah ngalah-ngalahin yang gede.” Berharap si Ibu segera “ngeh” dengan maksud ucapan saya.

Bagaimana menyikapi anak kecil yang berulah seperti tante-tante atau biang rumpi? Bagaimana bikin seorang anak kecil tahu kapan harus jauh-jauhan dari pembicaraan orang dewasa? Bagaimana caranya menyortir mana pembicaraan yang pantas dibicarakan anak kecil dan mana yang tidak? Apa perlu LSR (Lembaga Sensor Rumpi) dilibatkan disini?

Masa kecil, katanya, memang masanya meniru dan mengembangkan pengetahuan yang dia dapatkan dari sekitarnya dengan sangat kreatif.

Keponakan saya, lagi-lagi jadi contoh (habis, belum punya anak sendiri sih). Umur empat tahun, keponakan saya sudah bisa mencontoh cara menangis a la sinetron. Yang sesenggukan jijay bajay dan hah huh hah huh itu. Saya yang mendengarnya pertama kali langsung curiga ini pasti adopsi dari sinetron, karena seumur-umur saya mengasuh dia, belum pernah dia menangis sebegitunya. Kalau oleh Ibunya ia diberitahu dengan baik-baik dan ditanyakan kenapa cara menangisnya seperti itu, oleh saya: saya ledekin dia habis-habisan sampai malu. Setiap ada tanda-tanda dia mau menangis, saya sudah pura-pura menangis duluan dengan gaya sinetron yang dia tiru. Alhasil dia tertawa dan malu. Dia sudah melihat sendiri betapa jijay-nya si Tante saat menangis a la sinetron itu.

Begitu besar sedikit, dia sering saya bawa kemana-mana. Dia jadi mengerti dan menguping pembicaraan orang yang sedang bekerja. Kalau ada pembicaraan yang tidak pantas didengarkan anak kecil (filternya dari saya), saya selalu menyuruhnya untuk beli es krim atau makanan atau apa saja yang bisa membuatnya jauh dari saya. Ini cara yang diprotes oleh Ibunya karena tidak mengajarkan si anak untuk memahami bahwa si anak butuh tahu “space and time”nya orang dewasa dan harus belajar menghormatinya. Ya, saya mungkin yang salah. Tapi begitulah cara saya membuat keponakan saya menyingkir. Sampai akhirnya kalau saya menyuruh keponakan saya beli sesuatu di luar, respon dia dari “Ya Teta” berubah menjadi, “Ada pembicaraan khusus lagi ya Ta?”.

Makin besar, keponakan saya ini punya sejarah berulah seperti Tante-Tante. Suatu hari saya dan Ibunya dan kakak saya yang lain sedang berbincang santai a la kakak dan adik. Lalu dia tiba-tiba ngomong dan berusaha mengimbangi cara bicara kami dengan cara nyeplos yang sangat tidak sopan di telinga kami-kami saat itu (saya lupa apaan tapi Ibunya marah besar). Ia ditegur saat itu juga oleh Ibunya.

Saya bukannya tidak suka berbincang-bincang dengan anak-anak. Saya amat sangat menyukainya. Tapi ada hal-hal yang memang konsumsinya untuk orang dewasa, yang antara kuping satu orang dewasa dengan kuping orang dewasa lainnya bisa sangat berbeda ukurannya. Ukuran yang diterapkan ke keponakan-keponakan saya oleh Ibu mereka adalah “boleh ngomong apa saja ke siapa saja asal tahu aturan dan batas kesopan-santunan.” Itu saja masih belum jelas dan terus menerus diikuti dengan pengawasan melekat dari para orangtua masing-masing.

Anak-anak sih bagusnya bersikap seperti anak-anak. Yang bisa meledek Tantenya atau orangtuanya dengan gaya khas cerdasnya anak-anak. Mau bersikap dewasa pun tentu saja boleh. Tapi jangan sampai jadi kayak Tante-tante (atau Om Om), atau biang rumpi nggak jelas yang membudayakan rumpian nggak jelas.

Hmm, saya jadi ingat kalau saya sering merumpi nggak jelas dengan ponakan-ponakan saya. Tapi mereka masih tetap waras sebagai anak-anak dan tidak pernah berulah seperti biang rumpi. Ada gunanya juga rupanya penjejalan soal ukuran dan batasan ngomong itu ke mereka. 

Kadang-kadang sayanya yang malah bingung merespon celotehan para ponakan. Seperti misalnya, “Teta, kenapa sih orang harus kerja? Kan capek. Mendingan di rumah sama anak-anaknya.” Akhirnya kita mengobrol tentang apa dan kenapa sampai soal macam-macam pekerjaan, hingga para ponakan kemudian menceritakan cita-citanya masing-masing (kalau nggak salah mereka masih pengen jadi astronot dan dokter saat itu). Yang saya jawab dengan, “Oya? Keren tuh. Teta sih dari dulu maunya jadi Seorang Kapiten. Eh, kok jadinya begini.” Mereka tertawa sampai berguling-gulingan sendiri di kasur. 

Kita memang nyambung banget kalau sudah begitu. Dan saya menikmatinya dengan khidmat hingga muncul kata-kata ini, “Teta jangan punya anak ya. Biar Teta buat kita aja.” 

Sial.

posted by -Fitri Mohan- @ 3:25 PM,

22 Comments:

At 4:50 PM, Blogger Donnie said...

nenangga itu kata dasarnya apa ya?:-)

 
At 5:57 PM, Anonymous endang said...

hmmmm......panjang nih jadinya.....bisa jadi makalah sendiri. balik-baliknya, jadi ibu itu punya seni sendiri ) seni tari, seni musik, seni nggosip, seni putar otak......lhoooooooooo.....)

 
At 9:45 PM, Blogger iway said...

**lagi mikir, nonton sinetron di NY gimana caranya ya??**

 
At 12:09 AM, Blogger - Nilla - said...

huehuehuehue... ending nya ga ketebak.
*hayah... kayak lg nonton sinetron*
hmmm... prihatin ya liat anak2 itu?
jd inget adikku yg masih berumur 7 tahun di rumah.
untung dia ga suka dibawa Mama ke tempat2 "rawan".
untung jg dia punya channel-nya sendiri kalo mau nonton.
jd ga harus nonton sinetron dan kebawa2 dgn "aliran sesat"-nya itu.

 
At 12:15 AM, Anonymous yati said...

1. ya ampun! anak2 diajakin gosip sadis kek gitu...!

2. yuhuuu...tante asik!

 
At 1:25 AM, Anonymous iman brotoseno said...

he he anak gendeng sampai ngerumpi ibu temennya biasa godain laki laki..

 
At 1:26 AM, Blogger isnuansa said...

itulah kenapa ada istilah: buah nggak jauh dari pohonnya. sejak kecil aja udah dicekokin rumpian, setelah gede ya meneruskan tongkat estafet lagi...

 
At 2:36 AM, Anonymous sluman slumun slamet said...

ini gara2 keluarga punjabi dan kroninya.....
sinetron mlulu........
lom lagi acara gosip....
ah....
:D

 
At 4:59 AM, Anonymous Yuli said...

kalo tante-tante yang bergaya anak-anak ada gak fit?

apa kabar? kangen deh gue ama dirimu

 
At 6:59 AM, Anonymous kenny said...

wahhh itu sih udah keterlaluan, klo itu anak ku udah aku tapuk hehehehe, bhs indonesianya apa yah.

 
At 8:59 AM, Anonymous oktaendy said...

“Teta jangan punya anak ya. Biar Teta buat kita aja.”

Sial.


ngakak aku.. :)), koq ya bisa2nya anak kecil ngomong gitu hahahaha..
kayanya gara2 makanan yang terlalu bergizi mereka jadi cepet dewasa.

 
At 12:08 PM, Anonymous Doohan said...

Anak tetangga gw malah di ajarkan bahasa kotor sama ortunya biar bisa pintar ngomong klo dah gede katanya.
Gw pernah gampar gara2 pulang kerja lapar2 g ada ujan angin di maki sama si anak. tak lupa ortunya ikut gw labrak sekalian, mo ngadu ke komnas ham gw g peduli saat itu. habis makinya berlebihan sih... *jadi ingat kenangan indah jadi preman dulu* :)

 
At 12:44 AM, Anonymous Totok Sugianto said...

dunia anak-anak memang tidak seharusnya mengenal gossip ataupun obrolan horror lainnya.

 
At 7:46 AM, Anonymous puput said...

kalau saya td siang liat tivi mbak, wartawannya nanya ke anak kecil mungkin usia 4 tahun gini : "memangnya tadi dapat INFORMASI apa saja?" si anak harus berpikir keras dulu buat menjawab pertanyaan itu. humf. memang orang tua harus tau gimana berhadapan dgn anak kecil.
*keluh*

 
At 2:03 PM, Blogger GusKoko said...

Budaya sinetron memang sudah mewabah dan rasanya sudah meng khawatir kan.
Banyak juga yang akhirnya terbawa "hawa" sinetron, dunia khayalnya sinetron. Oh Indonesia-ku ?

 
At 10:26 PM, Blogger -Fitri Mohan- said...

@donnie: "nenang" kali. hahahah.
@endang: pelajaran seni jadinya yak.
@iway: ini cerita terjadi bukan di NY way. :)
@nilla: tempat2 rawan itu mane neng? bagus tuh kalo udah ada channel sendiri.
@yati: bener tuh. sadis.
@iman: aku aja kaget mas.
@isnuasa: gitu ya?
@sss: hahaha, kok jadi nyalahin raam punjabi.
@yuli: nahhh, itu gue yul. :D i miss you too, dear.
@kenny: aku juga maunya napuk mbak. tapi, masalahnya itu anak tetangga...
@oktaendy: itu ponakan2ku emang suka ajaib kosakatanya.
@doohan: itu sih sudah keterlaluan. ngeri ah.
@totoks: "demikian kata menteri totok sugianto."
@puput: itu yang harus diutak-atik wartawannya deh.
@guskoko: semuanya butuh disortir ya gus.

 
At 8:40 PM, Anonymous maya said...

anak-anak bergaya tante-tante. tante-tante bergaya ABG..uuummmm...

 
At 2:36 PM, Blogger amethys said...

jadi inget show nya sapa tuh bill crosby?...hehehehe anak2 ngomong apa aja...
tapi....untung deh ponakanku hanya ngomong yg lucu2 aja...nakalnya nakalnya anak2....

 
At 11:44 PM, Blogger ika rahutami said...

mumet fit...
tapi sinetron tuh pengaruhnya emang besar banget. adikku sampai membunuh rcti dan sctv, biar anaknya bebas polusi

 
At 9:42 AM, Blogger ichaAwe said...

jd inget ponakan suamiku...ABG siihh gak kecil2 amat, tp lidahnyaaaa ampuuun degh..kadang2 sebel sendiri.
btw kamu dipanggil teta...disini teta artinya nenek

 
At 9:42 AM, Blogger ichaAwe said...

jd inget ponakan suamiku...ABG siihh gak kecil2 amat, tp lidahnyaaaa ampuuun degh..kadang2 sebel sendiri.
btw kamu dipanggil teta...disini teta artinya nenek

 
At 10:19 PM, Blogger -Fitri Mohan- said...

@maya: begitulah dunia kini :)
@amethys: asyik tuh mbak kalau nakalnya masih wajar.
@ika: kayaknya emang harus dibunuh deh.
@icha: hahaha, selain dipanggil teta, aku juga dipanggil nenek (tanpa cucu). nasiiib nasib.

 

Post a Comment

<< Home