Dua Gelas Anggur

Perempuan yang telah selesai membedaki wajah itu memandangi lukisan Dua Gelas Anggur karya John Singer Sargent. Lukisan itu terpampang di sebuah kalender dinding. Tapi ia menikmatinya seperti sedang berada dalam galeri lukisan maha karya di Museum of Modern Art.

Waktu baru saja berada melewati kuarter pertama hari. Dan matanya masih nanar memandangi lukisan sebuah meja yang sepi dengan dua gelas anggur di atasnya. Lukisan dalam sebuah kalender yang saat ini menunjukkan bulan November. Bulan yang mengingatkannya akan kehilangan, juga perjumpaan. Sesuatu yang dulu, dan sebuah kekinian.

Masa lalu terkenang indah dalam November yang dingin. Dedaunan yang gugur tanpa mengenal ingin, bercerita tentang hidup yang sebentar. Tentang musim semi yang berakhir dalam satu dua kibar. Menjemput gelayut kehidupan sembari tersenyum dan berkata, Aku Akan Kembali.

Perempuan itu pernah menghitung sebuah November sebagai masa yang abu-abu. Dia di masa lalu yang menyukai awal dari segala cerita dan menyesali apapun yang berakhir itu... Dia di masa lalu yang berdiri berhadapan dengan berbagai kehilangan... Dan mengetahui bahwa itulah bagian dari pelajaran kehidupan. Salah satunya: tidak selamanya rindu bisa diobati.

Untuk itulah ia bermimpi. Tak hanya saat ia memejamkan mata. Namun juga pada saat matanya terbuka. Tak hanya pada malam yang gelap. Namun juga siang yang terik.

Ia mulai membuat peta mimpi. Dengan acaranya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah minum anggur sembari melihat-lihat lukisan di kalender. Dengan kekhidmatan seolah Monet sedang berada di sebelahnya.

Pada mimpi itu ia bertemu Ayahnya, Ibunya, dan orang-orang yang dicintainya yang sudah pergi meninggalkannya. Mereka tertawa riang. Mencandai kecengengan. Meributkan ketololan. Setelah acara mereka selesai, senyum sudah hadir di mata dan hati. Disinilah ia merasakan, Tidak semua akhir harus menjadi sepi.

Dan termenunglah ia. Beringsut dalam ironi. Barangkali seperti itulah November dalam benak perempuan itu. Gugur namun menunggu untuk tumbuh. Pergi namun berjanji untuk kembali. Sesuatu yang dulu, dan sebuah kekinian.

Perempuan yang baru saja memakai bedak itu meneguk sedikit anggur putih di tangan kanannya. Matanya nanar menatap lukisan Dua Gelas Anggur. Diletakkannya gelas di meja dan diambilnya spidol hitam di rak lemari.

Kini di meja sepi itu, sudah ada dua belas gelas anggur dengan isinya.

"Tidak ada gunanya terus berduka. Karena tak semua akhir harus menjadi sepi."

Mari kita berpesta.

Labels:

posted by -Fitri Mohan- @ 1:18 PM,

27 Comments:

At 2:06 PM, Blogger Anang said...

mari kita menghapus duka..

 
At 2:18 PM, Anonymous bibisp said...

yang sudah 'pergi' bisa di simpan di hati, dibawa kemanapun kamu pergi biar nggak sepi...

 
At 2:34 PM, Blogger Innuendo said...

mari kita berpesta...tapi bukan pesta minum anggur lho...kita hapus kangen dg chatting. lho !?

cup..cup....

 
At 4:19 PM, Blogger ichaAwe said...

kita bakal mengerti arti perjumpaan ... jika ada perpisahan...

tak ada yg kekal didunia ini

 
At 6:47 PM, Anonymous endang said...

gue jg semalem mimpi ketemu almarhum, pengen nulis, kok pagi ini baca tulisan elo...mgkn memang gitu caranya mengobati rindu yang sulit terobati...

 
At 7:40 PM, Anonymous mata said...

dan masih kau simpan kenangan kenangan itu dalam hati lalu terus dan terus kamu ceritakan tiada mati.

 
At 8:56 PM, Blogger CempLuk said...

anggur itu alkoholn bukan sih ?? bingung..

 
At 9:27 PM, Blogger Iman Brotoseno said...

jadi ingat musim gugur ketika daun daun mapple jatuh.. semuanya jadi melankolis, sepi dan sekaligus emosional..
Just like connecticut in november..

 
At 9:51 PM, Anonymous santi d said...

*hugs*

 
At 11:48 PM, Blogger isnuansa_maharani said...

november rain [di Indonesia], saatnya mengenang perjumpaan dan kehilangan, ditemani rintik hujan [asal nggak berubah jadi banjir aja]...

 
At 1:08 AM, Anonymous venus said...

aduh, kok jadi ikut nyesek ya? :(

 
At 1:16 AM, Anonymous Hedi said...

kalo gitu, anggurnya kurang dong...

 
At 1:35 AM, Anonymous dewi said...

semua ada masanya. itulah yang dikata orang2 bijak. dan yang tertinggal, tinggal menyelesaikan pesta.

mari bersulang, mbak!

 
At 1:54 AM, Anonymous peyek said...

sepi kadang-kadang perlu kita rengkuh dan kita elus-elus agar dia hidup dengan identitas dirinya dan akhirnya menjadi teman yang menyenangkan.

 
At 1:54 AM, Blogger Totok Sugianto said...

tetap semangat :D

 
At 2:06 AM, Blogger lierieh said...

seandainya tidak pernah ada perpisahan akankah ada perjumpaan???

 
At 3:06 AM, Blogger TaTa said...

kangen jugak fit ...

 
At 3:37 AM, Blogger just Endang said...

Tata! komen kok kangen...

 
At 9:05 AM, Anonymous Mommo said...

wow! tulisannya jadi tambah keren aja... tapi tentang perempuan yang sedang berduka ya. semoga cepat ceria kembali...

 
At 12:35 PM, Blogger nadia febina said...

kerinduan memang sulit terobati.. jadi sedih, fit.. :(

big hugs.. :)

 
At 7:59 PM, Blogger ika rahutami said...

... mmmm fit... menyentuh
pilihan katamu apik

 
At 9:15 AM, Blogger Ely Meyer said...

postingannya menyentuh Fit !

 
At 11:01 PM, Anonymous keritiKentang™ said...

Uni ini memang pinter bikin aku muter otak di tiap postingannya..

ummbbbb, 12 gelas anggur..
apa itu artinya 12 tahun setelah ia ditinggalkan keluarganya?

Aku harap dia bukan uni :)

 
At 2:05 AM, Anonymous aiame.com said...

aku suka kalimat terakhir.
"Tak semua akhir harus menjadi sepi"

Aku jd inget..seorg temen tanya sm aku. Kenapa rasa sepi itu harus ada.
Dan aku cuma mikir..kalo ga ada sepi..maka kita ga akan pernah tau betapa istimewanya waktu kita bersama orang2 yg kita sayangi.. ^^

 
At 2:09 AM, Blogger Grandi said...

Hay, hanya ingin meninggalkan jejak.. hehehe, salam kenal dari Bali... Grandi

 
At 3:19 AM, Blogger Larasati said...

duh..serasa membaca novel deh...ikutan melow

 
At 5:05 PM, Blogger -Fitri Mohan- said...

@anang: mari.
@bibisp: i like that idea.
@innuendo: kalo chatting dirimu cepet boboknya. begadang dong sekali2. :)
@icha: indeed.
@endang: dengan bermimpi.
@mata: ..dan setiap kali perhentian tak lupa menari dan kembali bersulang.
@cempluk:lha maunya gimana?
@iman: pasti indah saat itu ya.
@santi d: *hugs*.
@isnuansa: duh, jangan sampe banjir.
@venus: :)
@hedi: malah kebanyakan ini mas.
@dewi: mari wi!
@peyek: good idea itu mas.
@totoks: :)
@lierieh: you know the answer already kan jeng? :)
@tata: kangen juga ta.
@justendang: hahahaha. dia lagi kangen sama siapa2 tuh kayaknya.
@mommo: selalu ceria si perempuan itu mo.
@nadia: *hugs*
@ikarahutami, elymeyer: mari ikut bersulang.
@keritikentang: bukan periode waktu niek. btw, it's me.
@aiame: :)
@grandi: salam kenal juga.
@larasati: pakabarnya mbak? jangan melu2 melow lho ah. :)

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home