Penyejuk Mata
Monday, October 15
Sebagai orang yang kemanapun bepergian selalu mengandalkan kereta bawah tanah (di New York City transportasi ini berjuluk subway), pemandangan yang lewat di depan mata adalah orang-orang yang memenuhi kereta. Kebanyakan view di luar subway adalah gelap, karena bawah tanah itu tadi. Meskipun demikian, ada jalur-jalur subway yang tak melulu gelap alias berada di atas tanah. Dan, ini biasanya hanya bisa saya nikmati pada akhir pekan.
Jika sudah sampai ke apartemen, pandangan yang tampak adalah atap-atap yang dingin. Atau jendela-jendela yang tertutup rapat. Orang-orang yang kembali lalu lalang. Pepohonan yang yaaah lumayan lah daripada enggak. Kekakuan dan keterburu-buruan. Yang barangkali hanya lebur saat sudah berada di dalam klub atau kafe. Tapi saya bukan tipe orang yang senang berada dalam keramaian di klub atau kafe. Kecuali kalau itu dengan kawan-kawan yang sangat akrab. Atau kecuali saat saya melihat senyum tulus dari seorang asing. Saya suka senyum yang tulus. Itu benar-benar menyejukkan mata.
Namun saya tahu, senyum orang tidak tumbuh dengan sendirinya. Dan tidak bisa dilihat seketika itu juga sesaat ketika senyum itu dikeluarkan.
Kepuasan menyejukkan mata sering saya lihat di tempat yang bersih dan alami. Ada yang menenangkan disana. Sama alasannya seperti kalau saya sedang sengaja datang ke Central Park. Saya suka takjub dengan taman besar ini. Lebih takjub lagi ketika mendengar bahwa Central Park bisa secantik itu bukan mengandalkan dari pemerintahan lokalnya, tapi karena orang-orang yang peduli untuk menghijaukannya. Ini seperti yang pernah dilaporkan John Stossel, wartawan ABC,
"That's why I donate money to that charity and the Central Park, where, full disclosure, I'm a director of the charity that's helped clean it up. About 20 years ago the park was in terrible disrepair. The lawns were barren and eroding. Buildings were covered with graffiti. The government kept promising to restore it, but never did. Yet now, the park is beautiful. Central Park is now the no.2 tourist destination in New York City... Because our private charity now manages the park, and pays for most of its upkeep."
Sedikit peduli ditambah sedikit aksi sudah bisa membuat satu perbedaan yang tidak sedikit...
Saya bukan tipe orang yang pandai merawat tanaman. Setiap kali saya mendapatkan hadiah tanaman, setiap kali pula saya merasa bersalah karena beberapa hari setelahnya tanaman ini mati. Kalau tidak kebanyakan air, ya karena saya tinggal berhari-hari ke luar kota dan lupa menitipkannya pada saudara atau tetangga. Terakhir saya dititipi teman tanaman yang biasa ia pajang di mejanya. Saya senang melihatnya tapi begitu saya yang dititipi saya blingsatan sendiri. Gugup sendiri. Maka, saya dengan halus menolaknya. Takut kalau ia kecewa.
Di perjalanan subway kota ini, sambil mengingat-ingat John Stossel dan Central Park, suatu hari saya bertanya-tanya sendiri: barangkali mereka yang punya atap dan jendela rumah itu – yang dingin dan ngelangut itu- seperti saya. Senang melihat segala yang menyejukkan mata, tapi tidak melakukan demi adanya. Blingsatan sendiri. Gugup sendiri. Bagaimana jadinya kalau saya duduk dekat jendela dan atap-atap rumah yang biasanya hitam dan jendela-jendela yang ngelangut itu tiba-tiba sudah dipenuhi dengan tanaman? Apa sih yang menghentikan saya untuk mencoba sekali lagi berani menanam sesuatu? Menumbuhkan kesejukan itu sendiri? Meskipun kecil dan bermula dari bibit yang belum menjanjikan apa-apa?
Saya percaya mata ini (dan mata siapapun yang memandang) akan sangat termanjakan karenanya. Sejuk setiap kala memandangnya. Sama seperti saat melihat orang membuang sampah pada tempatnya. Memisahkan antara yang bisa didaur ulang dan yang tidak. Seperti tersenyum tulus pada orang asing yang lewat di depan kita. Hal-hal kecil seperti itu.
Karena saya tidak bisa naik ke atap dan tidak tahu bagaimana cara aman menanam di atap rumah, saya hanya menaruh tanaman di pekarangan depan rumah saya. Tanaman ini umurnya masih baru. Belum punya nama dan belum tumbuh cantik. Semoga bisa sukses hidup sampai nanti-nanti.

posted by -Fitri Mohan- @ 1:30 AM,
16 Comments:
- At 3:09 AM, Anang said...
-
save our world!
- At 6:41 AM, Sanni said...
-
pohon melati ya? ^_^
- At 10:02 AM, Mariskova said...
-
Iya, kok kayak melati, eh, jasmine.
Gue pecinta tanaman. Kembarannya Idefix. Pernah susah payah nanem bunga mawar. Hidup. Berbunga 3 kuntum. Merah bagus besar. Besoknya hilang dicolong orang bersama pot-potnya... - At 1:29 PM, santi d said...
-
Wah ... gw ngga suka tanaman .. seneng hijau2, tapi ngga demen miara heheh.
Semoga berhasil ya dgn proyek nanam menanam :) - At 1:55 PM, mina said...
-
aku juga paling gak tangan dinginan kalo nanam sesuatu. good luck for the plant :D
- At 1:05 PM, Iman Brotoseno said...
-
kalau dibayangin cuma sendiri mungkin nggak terasa, tapi kalau semua orang sedunia nanem pohon kecit aja, its something to our world
- At 10:05 PM, amethys said...
-
tebak ah, itu pasti melati...he he he....
hadiahnya ditunggu yah jeng??
gimana crita lebarannya? - At 2:20 AM, rime said...
-
waaa... mbak fm menanam tanaman..
emang di sono orang2nya ga terbiasa menanam tanaman ya mbak? kok kalo gua liat di pelem2 gitu keknya halaman rumah orang bersinggungan langsung dengan jalan, ga ada tanemannya sama sekali..
mbak fm, nyiramnya pake air apa? konon kalo disiram pake air kopi dan air kaldu, tumbuhnya bisa bagus loh ^^ - At 7:02 AM, ina rianasari said...
-
semoga tanamannya bisa tumbuh dgn baik, you had given a little spark of life in this world
- At 10:43 AM, Totok Sugianto said...
-
kalau semua orang sadar minimal pada lingkungan sekitar yang terdekat saja , itu sudah cukup membantu menyelamatkan lingkungan
- At 4:40 PM, -Fitri Mohan- said...
-
@anang: let's.
@sanni, mariskova, amethys: katanya sih gitu. :)
@santi d, mina, ina: thanks ya! mudah2an tumbuh.
@iman, totok: pasti.
@rime: rim, disini orang hobi nanem tapi di dalem rumah atau di tanah di luar rumah. bukan di atap rumah seperti yang aku impikan. aku nyiramnya pake air biasa. baru tau kalo bisa pake air kaldu dan segala macemnya itu dari elu. thanks buat infonya ya rim! - At 7:46 PM, mina said...
-
pake air kaldu? kopi? aku juga bisa tumbuh :D
- At 4:23 AM, bininya uban bauer said...
-
mmmmm...elo dah tanya harry potter sihir apa yg bisa bikin atap rumah hijau? tanya yg bener, ntar yg dikeluarin tukang cat pula!
- At 2:00 PM, Innuendo said...
-
di eropa lebih parah lho..gak ada yg senyum. rebutan naek tram, gue ditabrak ama cowok, cuwek aja dia, yg penting dpt seat.
kalo tanaman sih..aku sukanya ama yg berbuah doank. tomat, cabe hehehe..kalo gak ya pasti mati
kamu lempar tanaman rambat aja diatas atap..sapa tau idup - At 12:35 PM, venus said...
-
i even missed this! mustinya gw nulis sesuatu buat tgl 15 oktober, udah diniatin dari kapan2...
JAIKU KEPARAT!!! - At 3:43 PM, Pemuja Cleopatra said...
-
Assalamu alaikum...sorry bukannya mo comment,tp pengin kenal aja...so,salam kenal yach dari Kairo.










