Manusia di Depan Cermin
Saturday, September 29

Tidak peduli bagaimana bentuknya, besar atau kecilnya si cermin, manusia pernah berinteraksi dengannya. Minimal berdiri di depannya dan mematut diri sekedarnya. Akibat yang ditimbulkan saat berkaca juga selalu berbeda. Tergantung persepsi apa yang ada di kepala, saat melihat diri sendiri di depan kaca.
Ada masa dimana saya sangat menghindari cermin. Yaitu ketika sedang jerawatan hebat sekali. Melihat ke cermin rasanya seperti melihat monster. Lalu saya menyadari, saya bahkan sampai malu jika harus berhubungan dengan orang-orang atau kawan-kawan saya. Beberapa diantaranya kemudian mengatai saya sombong, tidak bergaul, dan sampai ada yang tega melakukan sesuatu yang membuat saya makin menderita di tengah jerawatan hebat saya. Saya suka bertanya-tanya sendiri, apa jadinya kalau saya nggak pernah tahu bahwa di dunia ini ada benda bernama cermin. Mungkin saya tidak akan peduli dengan kondisi serupa monster itu. Atau malah terus menerus bertanya-tanya dan tak percaya diri karenanya.
Saya lupa kapan mengenal cermin pertama kali. Tapi saya ingat kapan dulu saya begitu suka memandang diri saya di cermin, yaitu ketika sedang merasa cantik, atau sedang dalam periode senang memain-mainkan muka seperti badut, dan saat sedang dalam periode jatuh cinta. Di luar tiga itu, saya normalnya tidak suka berlama-lama berkaca di depan cermin, kecuali kalau sedang mencoba produk make up, atau sedang iseng pengen ngupil.
Pernah nggak, memandangi cermin lalu berkata-kata sendiri? Atau senyum sendiri? Atau melatih pose dan air muka sebelum memotret diri sendiri? Anak-anak jaman sekarang mengistilahkannya sebagai narsis. Thank God, ada banyak saluran untuk narsis sekarang ini. Coba saja lihat foto-foto di Friendster atau Flickr. Bahkan sinar mata yang tidak bahagia pun, bisa dinarsiskan dengan melayangkan senyum dahsyat berjudul “Lihatlah gue, sosok bahagia ini.”
Sinar mata tidak bisa berbohong. Dan kadang-kadang saya menemukan itu di foto-foto yang kebetulan berada di depan mata saya. Saya menemukan wajah yang memaksakan tawa. Saya menemukan cermin A dengan pesan B. Ketidakkonsistenan. Pembantahan.
Saya jadi ingat saat baru putus dengan pacar di jaman dahulu kala. Ceritanya, saya dikhianati. Sakit hati anak sekolah gimana sih? Parah kan? Saat itu saya gengsi banget kalau sampai menunjukkan kesedihan saya ke orang-orang. Ibaratnya, “Putus sama dia, gue nggak bakalan mati kok. Dunia ini luaaaaas! Nggak usah cengeng deh!”
Setiap hari, lagu Maju Tak Gentar saya siagakan. Memasang muka seceria mungkin. Setiap mau sekolah, saya memastikan diri di depan cermin bahwa saya sudah sangat segar dan cerah. Kalau lagi ada acara hang out sama temen-temen, tidak pernah mereka menemukan saya dalam keadaan melamun. Bahkan ketemu mantan aja, justru dianya yang kaget karena saya begitu ramah dan seperti nggak pernah disakiti olehnya.
Masa-masa ini berjudul Fake It Till You Make It. Ini seperti melihat gambar Santa Claus dengan tulisan “Don’t Stop Believing”.
Lalu suatu saat ketika sedang main ke rumah sahabat yang sangat dekat, ada lagu Together Forever-nya Rico J. Puno yang sedang diputar di radio. Segala daya upaya selama berminggu-minggu pun musnah. Saya bermewek ria pada detik itu juga sampai seluruh tempat tidurnya basah. Sahabat saya cuma bilang “Udah kubilang kan? Kamu pada akhirnya akan sampai pada keadaan seperti ini kalau sok tegar melulu.”
Itulah saat dimana saya selesai membantah diri sendiri. Lega sekali. Dan, beberapa waktu kemudian, si mantan pacar malah pengen balik. Tentu saja saya tanggapi dengan senyum lebar dan berkata, “Terimakasih atas tawarannya. Tapi, aku lebih doyan sama pacarku yang sekarang. Lain kali aja yaaa kalau sempet.”
Cermin juga secara langsung atau tidak langsung bikin saya suka iseng bertanya-tanya. “Kenapa ya kok mimisan yang ini seperti ini keluarnya? Apakah benar aku makin cungkring sekarang ini? Masa sih kerutan awal tuanya seseorang berawal di sekitar mata? Mungkinkah perut ini bisa mengecil dari ukuran yang sekarang? Bisa-bisanya mereka bilang aku kayak Agnes Monica kena kutuk.” Dan sebagainya dan sebagainya. Membuat saya mengerutkan kening. Meninggalkan otak dalam keadaan terbata-bata, dan bahkan skeptis dalam tingkat yang absurd.
Ini seperti saat orang bertanya apa bedanya Mexico dengan New Mexico dan kita mendengar jawaban, “New Mexico is cleaner than Mexico.” Seperti mencurigai bahwa sebetulnya kitab suci itu adalah semata-mata buku diari atau buku catatan orang yang kebetulan ditemukan orang lain yang sedang haus bahan bacaan, lalu dituturkan mulut ke mulut orang per orang. Seperti The Great Pramoedya Ananta Toer yang mengisahkan Tetralogi Pulau Buru pada sekawanan tahanan. Bedanya, Pram kemudian menuliskannya sendiri kembali dan kita mengetahuinya sebagai novel sejarah. Sementara si orang yang menulis diary itu mungkin saja sudah mati dan tidak sempat bilang bahwa buku itu cuma percakapan imajiner-nya dengan tokoh-tokoh ciptaannya.
Akhirnya, manusia memang butuh untuk bercermin. Tidak hanya cermin dalam arti yang sebenarnya tapi orang-orang yang bisa berada di dekatnya dan membuatnya bisa mengerti dirinya sendiri. Ini mungkin yang sering dibilang Ibu saya dulu, “Butuh lebih dari sekedar melihat ke cermin untuk benar-benar bisa menjadi manusiawi.”
posted by -Fitri Mohan- @ 4:48 AM,
24 Comments:
- At 8:33 AM, gita igiets said...
-
Wah.. Mbak Fit.. baru di posting ya?
Ato jangan-jangan lagi onlen nih? hihihi..
Duwh dalem banget ya bo isinya.. jadi tergugah nih..
^_^ - At 3:21 PM, venus said...
-
iya nih, dalem banget, sampe nyurng aku mocone.
tapi keren, seperti biasa :D - At 6:28 PM, Endang said...
-
let's talk 'bout it, dear....I got my mirror couple days before,.... again...
- At 8:57 PM, TaTa said...
-
Klo jalan2 ke mall....ngaca dan terlihat bagus..ingin rasanya bilang "mba cerminnya di jual nggak??"
- At 8:09 AM, Nona Nieke,, said...
-
Bener juga ya mbak Fit..
kadang kita butuh org2 di sekeliling yg bisa jadi "cermin" untuk diri kita..
tp dillema juga..
ga gampang menjadi "cermin" untuk orglain..
hanya teman terbaiklah yg sanggup melakukan itu :) - At 9:12 AM, senny d'ordinary said...
-
daleeeemmm.... daleeeemmmm....
huhuhu... qo kayaknya nendang banget yah? - At 10:10 AM, rymnz.v.3 said...
-
saya lagi "butuh" cermin nih...
- At 3:22 PM, Innuendo said...
-
mandangin cermin trus senyum sendiri sih pernah..tapi kalo ngomong sendiri kekkekekek gak pernah. emangnya paramita rusady. lho ?!
- At 10:09 PM, mata said...
-
tiap kali kau melihat cermin, menunduklah. jangan pernah sesekali menengadah menatapnya. sekali memandang, kau akan terus disesaki rindu untuk kembali mendatangi dan bersolek di depannya.
yang kau lihat di cermin bukan dirimu, itulah mengapa tiap cermin memantulkan wajah yang berbeda. yang terpantul di cermin bukanlah bayangmu, itulah mengapa tiap cermin memperlihatkan wajah yang tak pernah sama.
jangan percaya teori bias cahaya atau datar cembung kaca, semua semata konspirasi para penyihir yang telah dikuasai kekuatan cermin dan tidak sudi kehilangan para korban mereka. percayalah hanya padaku, sebab meski bukan malaikat, tapi kalau hanya memberi tahu bahwa cermin cermin itu mencuri kecantikanmu, bahwa cermin cermin itu mengambil daya hidupmu, itu bukanlah perkara yang sulit. sama sekali tak rumit...
-ucu agustin-
saya salah satunya fit. manusia didepan cermin itu. kadang saya merasa aneh juga. siapa yang saya lihat didepan cermin ini ? saya yang sebenarnya ataukan orang lain yang hanya mirip. setelah itu semua pertanyaan akan datang menghampiri diri. benar salahkah diri saya ini ? lebih tepatnya hanya dijadikan sebuah media instropeksi diri. - At 11:34 PM, crushdew said...
-
cermin sebagai saluran narsis...kadang perlu juga ga sih?
- At 2:05 AM, neng said...
-
Duluuuu.. kalo lagi ngapalin harus didepan cermin, biar cepet masuk :D
- At 12:36 PM, nie said...
-
Cermin secara kiasan maupun dlm arti yg sebenernya memang sangat2 dibutuhkan dlm kehidupan setiap org, seperti kata ibumu, fit, biar bisa menjadi manusiawi. :)
ada saatnya harus bercermin utk berbicara dengan diri sendiri supaya ga stress dipendem terus hahahaha... - At 7:56 AM, danudoank said...
-
“Butuh lebih dari sekedar melihat ke cermin untuk benar-benar bisa menjadi manusiawi.” --- sama gak ya dg tahu merasa ketimbang merasa tahu.
- At 9:33 PM, said...
-
kalao latian drama, sebaiknya tak berlatoh di depan bercermin karena cermin malah mebatasi ekspresi kita. karena takut jelek, bis2 kita tak jadi berekspresi hehe. tapi memang cermin banyak fungsinya.
di apartemenku yg sempit ini, aku tak punya cermin yg seluruh badan. akibatnya aku PD aja terus dan yakin klo aku masih langsing.
aku sekarang banyaknya ngeblog di http://maknyak.multiply.com fit. - At 11:58 PM, Pritha said...
-
Gue menghindari cermin cembung, soalnya bikin terlihat lebih gendut, huehehee...
- At 3:43 AM, isnuansa_maharani said...
-
kalo lihat cermin sekarang yang kepikiran pertama: kapan jerawat ini ilang. cetek banget ya?
- At 4:54 AM, ndahdien said...
-
jadi keinget mantan, dulu pernah nemuin cerminan diri sndiri di dia.. sampe2 ga' perlu nebak2 buat tau pikirannya.
mengutip puisi nico dlm film GIE.. gw -pun mengubahnya mnjadi "qt begitu sama dalam semua, kecuali dalam cinta" hikss... - At 4:36 PM, MOMMO said...
-
aku suka ngarang cermin. (cerita mini maksudnya)huahahahahha.... :D tapi tulisan ini keren banget, asyik banget bacanya, terutama pas nyampe menangis gara-gara berusaha untuk tegar
- At 8:43 PM, gita said...
-
jaman msih aktif di teater dulu, klo latihan psti deh disuruh ngadep ke cermin..jeung apa kabar, kok leotnya balik lagih ke yg ini??
- At 9:25 PM, Apriliana said...
-
seringnya liat 'cermin' secara harfiah aja, susah sih ngakuin kalo 'ternyata saya egois yah' hehehehe
- At 4:44 AM, cewektulenkebangetan said...
-
kok semua yang ditulis bener sih????????jadi pengen malu..
- At 8:18 AM, undercover said...
-
Saya suka dengan kalimat terakhir ini,
"Butuh lebih dari sekedar melihat ke cermin untuk benar-benar bisa menjadi manusiawi"
Betul mba, butuh lebih sekedar cermin untuk bisa melihat seperti apa kita sebenarnya. Meski telanjang sekalipun, cermin dihadapan tak akan bisa untuk menelanjangi kita. Hati kita, semua kehidupan yang berputar didepan dan bersama kita sesungguhnya cermin yang sesungguhnya. Baik-jahat, indah-buruk, hitam-putih semua tersaji bagi kita untuk memilah dan memilih. - At 12:20 AM, santi said...
-
Duh tulisannya bagus banget! Kok bisa ya Fit nulis topik2 sederhana dengan ulasan mendalam? Banyak tulisan elo yg bikin gw jadi mikir.
- At 11:37 PM, -Fitri Mohan- said...
-
@gitaigiets: iya, sekarang lagi onlen git.
@venus: lauuut kali dalem.
@endang: let's.
@tata: :)
@nieke: setuju.
@senny: awas ketendang ntar sen. :p
@rymns: dah nemu yang dibutuhkan?
@innuendo: emang si paramita hobi ngaca dan ngomong sendiri? lupa gue...
@mata: you got it, mat.
@crushdew: kalo menurutku perlu lah dew. hahaha.
@neng: eh iyaaa! saya juga!
@nie: hahah, pengalaman pribadi nih kayaknya ya sher.
@danudoank: sama mungkin ya? dunno for sure.
@maknyak: heheh, enaknya kalo nggak ada cermin. sip maknyak, akan segera main2 ke MPnya.
@pritha: lagian iseng banget sih ngaca di depan cermin cembung lu prit.
@isnuansa: nggak juga. salah satu fungsi kaca kan buat ngecek jerawat sembuh apa enggak. :D
@ndahdien: duileeee, daleeem iniiiih.
@mommo: hehe, abis nangisnya emang enak. lega.
@gita: haloo aprikot! kamu pindah nggak bil2. iya, ini aku ganti soalnya kangen, dan diprovokasi sama si mata. hahaha.
@apriliana: hehehe, sometimes susah.
@senja: si cewek tulen pengen malu? monggoooo.
@undercover: well said mas.
@santi: aduuuh, jadi malu. kayaknya biasa aja san. ini ditulis pas lagi waras aja. :p










