Sang Tamu
Sunday, February 11
Beberapa hari kutunggu dia dengan sengaja. Karena tak datang sesuai janjinya. Persiapan sudah dilakukan: olah raga yang tak lagi jarang, sayuran yang hijau dan mekar, obat-obatan yang tak terlarang, tidur cukup dengan bonus mimpi yang terang. Dan, sang tamu: tetap tak tampak muka.
Dialah sang tamu. Yang saat datang menimbulkan teror. Dan saat tak datang menimbulkan teror. Hingga mimpiku yang terang terkadang korslet dan meriang. Kakiku kejang-kejang. Pinggangku sakit bukan kepalang. Kepalaku migren tak karuan. Perutku seperti tertusuk-tusuk ilalang. Dan kata yang muncul di bibirku hanya Sialan! Sialan! dan Sialan!
Dan jika ia datang, aku harus mendekam di bilik merenung kurang lebih dua jam. Dengan tubuh yang dingin dan menggigil dalam kram. Mata merah dan tangan yang mendadak lunglai. Semua sendi seperti bersiap undur diri dari tugasnya menjadi pilar-pilar tulang. Aku tidak tahan lagi. Ini tamu seperti setan yang meradang setiap bulan sekali. Dan sudah mengunjungiku secara berkala sejak payudaraku memperlihatkan sembulannya yang pertama. Sejak itu pula, kubenci dia.
Aku masih harus berhadapan dengannya dalam waktu yang cukup lama. Konon kata para tetua, “punya anaklah engkau, maka kedatangannya akan jadi ramah terasa.” Ah wow, betul juga. Jika aku punya nyawa di dalam rahim ini, maka aku tak akan bertemu tamu ini dalam waktu sembilan bulan beberapa hari. Dan jika kembali bertemu usai nyawa kecil itu kuhadirkan di dunia, kata para tetua, ramahnya akan bergema.
Tamuku, doakan aku untuk segera mendapatimu dalam bentukmu yang tak lagi teror itu…
Labels: For Myself
posted by -Fitri Mohan- @ 8:52 PM,
1 Comments:
- At 6:09 AM, venus said...
-
masih sering sakit tiap mens? iya ya, mungkin harus secepatnya punya anak.
try harder, baby. good luck :)









