Bapaknya Raymond
Friday, February 2
Dari seluruh anggota keluarga yang ada di serial Everybody Loves Raymond, saya sangat menyukai tingkah laku satu orang yang tertua disana, Bapaknya Raymond.
Seperti yang kita tahu, Everybody Loves Raymond adalah serial keluarga berdarah Italia yang tinggal di daerah Long Island, New York, Amerika Serikat. Mereka terdiri atas Raymond dan istrinya, Debra yang tinggal dengan ketiga anak-anaknya Ally, George dan Michael dalam sebuah rumah yang nyaman. Lalu, tokoh-tokoh lainnya adalah Frank, bapaknya si Raymond, dan istrinya, Marie yang tinggal dalam rumah yang hanya berjarak sepelemparan tisu dari rumah Raymond. Oya, Robert, kakak Raymond, di awal-awal episode ELR masih tinggal satu atap dengan orangtuanya, ya si Frank dan Marie itu.
Nah, rumah yang berjarak hanya sepelemparan tisu inilah yang menjadi warna dasar serial ini. Gimana hidup dengan mertua yang manipulatif dan protektif pada anak yang sudah menikah dan punya anak, gimana nggak enaknya punya mertua perempuan yang selalu mencela apapun hal-hal kecil yang dibuat menantu terutama yang berhubungan dengan masakan dan cara mendidik anak. Si ibu begitu cintanya pada Raymond sehingga sang kakak, Robert, selalu merasa terpinggirkan dan mencari cara agar sang ibu bisa memperhatikan dia sama dan sebangun seperti perhatian yang diterima oleh Raymond. Tentu saja, minta perhatian ini digambarkan dengan sangat konyol dan lucunya, sehingga tidak pernah absen membuat orang yang menontonnya tertawa.
Bapaknya Raymond, si Frank ini, digambarkan kemproh dan slebor. Asal ia diberi makanan lezat secara teratur, ia akan duduk santai dalam krinyas-krinyisnya. Main celetuk saat orang lain sedang dalam emosi yang membara. Membuka retsleting celananya kalau akan duduk lama dan menonton acara televisi favoritnya. Frase yang khas dari Bapaknya Raymond ini adalah, “Holy crap!”
Wajah si bapak ini lucu. Tua tapi seperti bayi. Kata-kata yang muncul dari mulutnya pendek-pendek tapi selalu membuat orang terhenyak. Seperti pada saat episode Marie yang mengaku lebih menyukai Amy (calon istri Robert) daripada Debra (istri Raymond) karena alasan Amy “lebih suci” ketimbang Debra yang cantik dan selalu memerangi omongan Marie ini.
Pada saat Marie mengatakan demikian, Debra lalu berkata, “I know I’m not like you Marie. You are a good girl, but,” belum sempat Debra menyelesaikan kata-katanya, Frank nyeletuk santai, “Good girl? Who said so?” Dan penonton pun dibawa pada kelucuan dan fakta-fakta tentang bagaimana akhirnya Frank dan Marie sebenarnya menikah: bahwa sudah ada Robert di dalam hubungan mereka. Hebatnya, serial ini mengisahkan berita ini dengan cara yang lucu dan kreatif. Semua orang punya andilnya dalam membuat kisah ini jadi sukses, tapi, saya suka dengan Bapaknya Raymond. Dalam sosoknya, selalu saya temukan tamparan-tamparan baru kehidupan yang lucu. Tertampar tapi merasa lucu. Bukankah itu satu keahlian yang luar biasa?
Akhir tahun 2006 kemarin, Peter Boyle, pemeran Frank meninggalkan dunia ini. Meskipun masih bisa melihat edisi rerun Holy Crap-nya dia, ada terbersit rasa sedih juga. Lucu juga bisa punya perasaan sedih begini. Tapi, segera hilang lagi sih begitu melihat kepala botak dan celetukan nggak berperasaan miliknya yang berkumandang setiap hari di televisi sini.
Have a good time there, Bapaknya Raymond!
Labels: For Blah
posted by -Fitri Mohan- @ 9:50 PM,








