SNACK

Ada yang bilang bahwa snack itu terbagi atas dua jenis: snack berat dan snack ringan (hmmm, bukannya snack itu sendiri artinya makanan ringan? Kok digolongkan lagi jadi ringat berat dan ringan ringan? Kayak kelas tinju aja…). Bagi saya, snack itu ya snack. Makanan yang bisa dimakan sambil nyambi dan nggak harus duduk di meja bersama dengan keluarga. Meskipun, yaaa, kadang-kadang sering juga sih kami (saya dan lainnya) makan snack dengan kekhidmatan seperti makan malam. Disitu, snack kita perlakukan dengan hormat lengkap dengan table manner-nya. Dan, makanannya adalah…. siomay. Mungkin si siomay ini terharu sekali dengan perlakuan kami padanya…

Snack buat satu orang ternyata bisa juga makanan berat buat orang lain. Steak sapi buat saya adalah makanan berat. Buat teman saya, itu snack. Gubrak aja dah saya dengernya. “Hoi, ini bukan permainan kata-kata hoiiii!” begitu kata saya memprotes. Dan dia berkata, “Nggak ada yang bermain kata-kata kok. Ini anggapan dari perut gue.” Sejak itu, saya nggak lagi mempersoalkan snack enggaknya suatu jenis makanan. Karena, di beberapa kasus, ternyata itu masalah referensi perut. “Perut lo emang perut kingkong…”

Akhir-akhir ini, saya sedang keranjingan Lemon Puff produksi Khong Guan. Rasanya yang kenyis-kenyis kering dan manis-manis kecut itu pas sekali terasa di lidah. Sehari saya bisa makan empat bungkus. Dimana sebungkusnya kalau nggak salah terdiri dari tiga baris, dan sebarisnya ada duabelas biji puffs. Harganya juga nggak selangit: sedollar lima belas sen. Tentu saja ini sangat mahal jika dibandingkan dengan snack pujaan saya dulu: Choki-choki, Krip Krip, dan Chiki-Chiki, eh, Chiki thok. Kalau makan snack jamdul tadi itu, selalu dibumbui dengan kemarahan-kemarahan orangtua saya. “Lho, kenapa marah sih? Wong enak kok.” Hwaduh, kalau inget sekarang gimana bahayanya snack-snack itu terutama kandungan transfatnya, saya jadi suka heran sama tubuh saya sendiri. Rupanya, kurus-kurus begini, saya perkasa juga.

Lemon Puff ini sekarang bahkan sudah bisa menjadi pengganti makanan berat saya sehari-hari. Nasi paling banter cuma satu kali dalam satu hari. Yang lainnya lemon puffs semua. Entah kenapa, saya kok kenyang-kenyang saja. Kadang-kadang saya sengaja bikin bubur kacang ijo, untuk sekedar penambah variasi, supaya nggak bosan-bosan amat. Tapi tetap, nasi harus dikonsumsi meskipun cuma satu kali. Kalau enggak, perut bisa meradang protes. Namanya juga perut anak Indonesia. Kalau belum dikasih nasi ya belum afdol rasanya.

Nah, yang paling gres sekarang adalah snack dalam kehidupan cinta. Ada yang bilang, “snack” itu penting sekali terutama kalau “makanan berat”nya sudah nggak bisa divariasi lagi. Namanya juga “snack”, ya perlakuan padanya pun nggak perlu serius-serius. Cukup untuk konsumsi ringan. Bahasa Ratu-nya, TTM.

“Ada-ada saja. Kehidupan cinta kok ada snack-nya. Kalau berubah jadi makanan berat gimana? Kan perut bisa mengubah referensi juga sesuai nafsunya?” beberapa lontaran santai ini terdengar dalam percakapan sore itu. Percakapan dimana Lemon Puffs kriyuk-kriyuk di mulut saya.

“Gue mah nggak gitu. Harus tahu mana makanan berat dan mana snack. Makanan berat divariasi, snack ya sambil lalu. Kalau snack bisa jadi makanan berat dan makanan berat jadi snack, ya buat apa pengistilahan mana berat mana ringan? Perut itu bagian dari tubuh. Kalau dia dari awal sudah bilang ini makanan berat, ya sampai kapanpun akan berat.”

“Nggak juga. Apapun yang ada di tubuh kita. Itu bisa dilatih untuk terus berubah. Perut yang nggak biasa makan makanan berat, bisa kok akhirnya makan makanan berat. Akhirnya, si makanan berat bisa jadi digolongkan sebagai makanan yang nggak berat-berat amat. Intinya itu: dilatih. Sama seperti otak. Makin lo pakai, makin lo nggak sangka ketajamannya.”

“Wah, kok jadi tubuh sih ngomongnya. TTM dong TTM.” Paling asyik memang berteman sama orang yang to the point begini. Nggak tahanan. Hehehehe.

“Ya udah yuk kita bayangin siapa yang jadi TTM kita. Aku sukanya sama Brad Pitt.”

“Waaaaaah, gila lu, Brad Pitt cuma dijadiin snack. Siapa dong yang jadi makanan berat lu?”

“Saddam Husein.” ?????????????

Pembicaraan selanjutnya mendingan disensor. Sungguh memalukan sekali soalnya. Paling enak nggak dibahas, tapi dikriuk-kriuk saja. Selamat kriuk ya.

Labels: ,

posted by -Fitri Mohan- @ 1:53 PM,

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home