Kopi Darat
Thursday, September 27
Note: Setelah sekian lama nggak kedengeran kabarnya, akhirnya saya ketemu lagi dengan orang yang saya ceritakan di bawah ini. Pertemuan yang menyenangkan! Saya posting lagi karena dia mau baca.
"Eh, kopi darat yuk! Nanti buku-bukunya kukasih kamu pas kopi darat aja. Gimana?"
"Oke!"
Selalu menyenangkan diajakin kopi darat. Ada rasa yang menyentak-nyentak disana. Penasaran yang akan menemukan jawabannya, bahagia karena pertemuan dengan orang yang rasanya telah lama kita kenal padahal belum pernah sekalipun bertemu, dan menunggu-nunggu kejutan lain yang bakal keluar dalam kopi darat itu.
Well, sampai sekarang dia sendiri belum tahu kenapa ada istilah kopi darat. Kenapa enggak teh darat atau anggur darat. Dia enggak tahu. Kalau dalam bahasa Inggris, kopi ini bukan coffee, tapi barangkali copy, a thing to be similar or identical to another, a single specimen of a particular book, record or other publication or issue, atau matter to be printed, atau bisa juga berarti reproduce. Tetap saja nggak berhubungan dengan ketemu muka.
Akhirnya dia iseng mikir, jangan-jangan istilah kopi ini berasal dari dunia kepolisian yang sejak dulu hingga sekarang (meskipun mungkin sudah banyak yang lebih memilih ponsel) memakai radio amatir atau handy talkie (HT) buat berkomunikasi. Setiap mendengarkan perintah atau kode-kode dari pihak lain entah atasan atau teman, mereka selalu menjawab dengan Delapan Enam (86) alias Dimengerti. Selain kode 86, ada juga kode, "Dikopi" atau "Kopi", yang menunjukkan bahwa si penerima pesan sudah mengerti. (Harap maklum, kode polisi dan kode para pelaku radio amatir itu selalu penuh dengan kode-kode berisi angka. Bagi yang alergi terhadap angka, dijamin mampus dengan sukses deh). Bahasa serumit apapun kodenya tetap bisa diotak-atik. Maka, dari "kopi" saja, akhirnya keluar buntut baru atau kode baru, yaitu 'kopi darat' tadi. Dimengerti secara darat. Difahami secara fisik. Ketemuan.
Jreng Jreeeeng.
Benar. Jreng jreng ini selalu menemani saat kopi darat itu tiba. Tinggal gimana bunyi jreng-jrengnya. Ada yang senada dengan Indiana Jones soundtrack, ada yang berbunyi seperti pembukaan Ria Jenaka jaman TVRI dulu, ada yang romantis seperti konser musik tunggal Erwin Gutawa atau John Williams.
Dulu, saat internet masih belum kelihatan batang hidungnya, rasanya semua orang mengalami yang namanya ketagihan beradio amatiran pake HT alias nge-brik (apa cuma dia aja ya?). Waktunya tidur, nge-brik. Waktunya belajar, nge-brik. Tiada hari tanpa nge-brik deh pokoknya.
Berbeda dengan Oomnya yang kalau nge-brik selalu lemah gemulai dan penuh rayuan, dia bercakap-cakap dengan galaknya. Terus terang, pertama kali dia nge-brik itu karena dia penasaran kok ada orang nyanyi kenceng banget dan bikin kupingnya sakit, dinongolkan di HT. Maka, dia yang masih SMP merebut HT Oomnya saat itu dan gantian nyanyi keras-keras. Nggak berhenti sampai lima menit sendiri. Eeeeh, setelah selesai nyanyi (yang sudah pasti tidak merdu dan memang disuarakan untuk kembali menyakitkan telinga-telinga itu), dia mendapatkan banyak sekali perkenalan. Dasar anak SMP yang pengennya tahu macem-macem, ya dia sambut dengan gembira dong. Terutama karena mereka nggak ada yang tahu kalo dia masih SMP. Mereka ngiranya dia udah kuliah. Sungguh penipuan yang indah!!
Kopi daratnya yang pertama adalah kopi darat yang nggak akan pernah ia lupakan. Saat itu dia udah kecantol banget sama suara cowok yang bener-bener keren. Berat, kesannya dewasa banget, dan kalau diajak ngobrol selalu nyambung. Si cowok ini mengaku mahasiswa semester akhir. Lagi penelitian. Senang melukis. Dan piawai mencipta lagu. Si cowok yang selalu bangunin dia pagi-pagi buat 'kuliah', selalu jadi tempat curhatnya saat bete, membuatnya tahu yang namanya jatuh cinta tanpa bertemu muka (sebuah keanehan yang membuat pendengar sering jatuh cinta pada penyiar radio). Dan pada suatu hari, si cowok ini mengajaknya kopi darat. Ketemuan? Yes, ketemuan. Jreng jreeeeeeeng.
Jreng jreng yang ini benar-benar jreng-jreng Erwin Gutawa. Setidaknya dari dirinya. Karena dia bener-bener mengharapkan semua yang ada dalam pikirannya menjadi kenyataan.
Betapa kecewanya dia ketika ketemu dengan si cowok. Karena ternyata orang yang sudah dipikirkannya berhari-hari ini udah bapak-bapak beranak satu!!!!!!! Halah halahhhhhhhh, ternyata penipuan itu sungguh tidak indaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!
Oom dan kakak-kakaknya ngetawain dia. Mereka nyukur-nyukurin sampai dia rasanya pengen tenggelam aja ke dasar bumi.
"Aduh Oom, maklumin aja lagi Om. Namanya juga anak SMP! Pikirannya masih naif!! Makanya jangan kegenitan!!! Mengkhayalnya kok udah sampe Paris!!"
Kopi darat ini membuat dia kapok nge-brik. Dunia ini ternyata tidak seindah bunyinya. Sampai pada suatu hari, bertahun-tahun dari kekapokan yang dulu itu, kakak sepupunya yang akan pergi ke luar berniat menitipkan HT dan seluruh perabotan elektroniknya ke kakaknya. Dan kakaknya menaruh semua peralatan itu di ruang baca yang ada tepat di depan kamarnya.
Godaan itu timbul kembali.
Terlebih karena setiap hari pulang dan pergi dari rumah, dia selalu melewatinya.
Dari ruang baca, akhirnya kotak HT berikut mic-nya telah berpindah dengan tenang ke kamarnya. Awalnya dia hanya mendengar-dengar percakapan orang lain saja. Rupanya si bapak beranak satu itu udah nggak pernah mengudara lagi. Minimal, nggak pernah lagi dia denger suaranya.
Akhirnya dia balik nge-brik, dengan nama yang dulu dia pakai, Indonesia (nggak asyik banget ya namanya, hehehe), atau disingkat jadi Ina. Dia juga sudah nge-brik dengan kesadaran baru. Bahwa semua yang ada disitu nggak ada yang serius atau jujur. Jadi, sebaiknya diajakin berorganisasi aja. Jangan buat cerita atau curhat. Rugi.
Suatu sore dia mau mandi. Sebelum mandi dia sempet ngobrol lama dengan seorang cewek yang kebetulan adalah kakak kelasnya. Disana, diaingat betul, dia berdiskusi tentang jadwal latihan pleton inti, berakhir dengan protes keras dan marah-marah karena jadwal yang nggak manusiawi. Ketika dia akan menyudahi percakapan, sebuah suara meluncur ke radio.
"Ina, kenalan dong. Inaaa. Inaaaa."
Begituuuuu terus. Udah suaranya aneh, kasar, nggak asyik, nggak oke, nggak keren, mengganggu lagi. Of course nggak dia tanggepin. Eh, suara yang berangasan ini dengan gigih memanggil sampai ada orang lain yang menghardik dia dan mengatakan "Ina udah nggak ada dari tadi!".
Barulah dia merasa bahwa sebaiknya dia terima saja panggilan orang bersuara kasar itu.
"Ya, kenapa Mas?" tanyanya. Jengkel.
"Boleh kenalan?"
"Iya cepetan. Saya mau mandi niiiih!"
"Saya Sten. Seneng bisa kenalan sama Ina."
"Oke deh, makasih Sten. Saya harus mandi nih, kalau nggak bisa kebakaran nih kepala."
"Iya iya deh. Gimana kalo kita janjian nanti malem?"
"Boleh. Udah dulu ya."
"Jam delapan ya Ina?"
"Iya deh oke. Bye!"
"Bye."
Dia lupa dia janjian sama orang itu jam delapan. Baru nyadar ketika ada orang manggil-manggil Ina. Dan Ina itu kan bukan namanya, jadi dia sempet nyuekin cukup lama. Baru bener-bener nyadar lagi setelah sang suara memanggilnya dengan lengkap:
"Indonesia, monitor?"
Dengan malas ia mengambil gagang HT. Dan akhirnya pindah ke frekuensi lain agar bisa melanjutkan obrolan tanpa terganggu jalur lalu lintas suara yang padat merayap itu.
Ternyata si orang bersuara kasar ini lucuuuuuu sekali. Mengaku kalau Sten itu singkatan dari Sayang Tenan. Denger logatnya yang sama sekali nggak ada Jawanya, selalu bikin ketawa. Alhasil mereka selalu saling meledek dengan asyiknya. Sten menjadi sahabatnya yang paling menyenangkan. Apalagi karena Sten ini lucuuuu banget! Segala macem hal yang pening di kepala bisa ilang kalau udah ngobrol sama cowok yang ditengah-tengah kesan kasarnya, ternyata halus dan sopan itu. Dia merasa orang ini jujur dan apa adanya. Meskipun dia nggak mau percaya seratus persen. Tapi, minimal, dia merasa waras-waras aja ngobrol sama Sten ini.
Akhirnya mereka tukeran nomer telepon. Tukeran alamat rumah. Saling tahu nama asli. Saling menganggap satu sama lain sebagai saudara. Dan akhirnya saling memanggil dengan panggilan Kakak, dan Adek.
Dia cerita mengenai jerawat yang sering nongol di pipinya. Dia cerita kalau keasyikan baca buku, tidurnya jadi suka ngorok. Dia cerita kalo dia rakus. Padahal kurus kerempeng dan hanya berisi tulang belulang. Pendek kata, rasanya, setelah dipikir-pikir lagi, dia sudah berhasil membuat imej di kepala si Kakak bahwa dia adalah makhluk mengerikan dan jorok setengah mati. Sama seperti Kakak yang sudah sukses menanamkan imej di kepalanya bahwa ia manusia yang sama mengerikan dan joroknya dengan si Adek.
Sampai suatu hari, Kakak memintanya untuk berkopi darat ria dengannya.
Kali ini jreng-jreng yang muncul adalah jreng-jreng Ria Jenaka atau Srimulat. Yang lucu, santai dan selalu bikin ketawa.
Rumah dia dan rumah kos si Kakak sebetulnya bisa dicapai hanya dengan jalan kaki 20 menit saja. Tapi mereka janjian bertemu di sebuah tempat yang si Kakak ini pikir bisa menyembuhkan jerawat si Adek: di warung Jamu langganan lelaki lucu itu.
Dia tahu warung Jamu itu selalu dipenuhi lelaki segala umur. Dari mahasiswa sampe kakek-kakek. Sedikit sekali dia lihat perempuan minum jamu disana. Tempatnya kan preman banget. Dia belum pernah kesana sih. Cuma lewat-lewat aja. Dan hari itu, adalah pertama kalinya dia menjejakkan kaki ke warung kecil yang katanya berkhasiat besar itu. Kata si Kakak, pesan aja jamu jerawat. Nanti si ibu penjual bakalan tahu jamu jerawat yang kayak gimana yang pas buatnya setelah melihat sendiri jerawat di muka.
Dia kesana. Lebih karena exciting bakal menemukan obat jerawat lain selain obat oles dari dokternya. Nggak pake celingukan, ia langsung pesen ke ibu penjual, persis seperti perintah si Kakak.
Setelah mendapatkan jamu, barulah dia duduk sambil aduk-aduk isi gelas dan celingukan. Dia mendapati semua lelaki disini santai semuanya. Nggak ada yang istimewa. Oh ya, ada. Ada sosok tampan berbaju biru yang duduk di pojok. Sumpah, ganteng banget. Ehhh, si cowok ini ngeliatin dia dari tadi rupanya. Senyum-senyum melihatnya dari samping. Dia senyum balik, sambil sekali lagi celingukan mencari si Kakak.
Dia minum seteguk demi seteguk. Bujubunengggggg! Pahit sodara-sodara!!!!
Dengan wajah nggak asyik tanpa bedak dan berjerawat, dia minta air putih ke ibu penjual. Pada saat itulah dia menyadari sesuatu. Si tampan itu.....
"Hallo Dek."
Jadi, itulah si Kakak. Sosok yang sejak dia masuk ke dalam langsung memandangnya dengan senyumnya yang menohok. Mereka berjabat tangan erat. Dan meneruskan tawa mereka di udara ke sebuah warung Jamu yang diperuntukkan bagi jerawatnya. Benar, jamu ini warung kecil dengan khasiat yang besar.
Sejak itu, dia mulai sembuh dari jerawat yang bandel. Dan sejak itu, Kakak tidak lagi cuma jadi kakak.....
Dan soundtrack konser Erwin Gutawa pun, dengan indah menjadi penutup lagu pembuka Ria Jenaka tadi.
posted by -Fitri Mohan- @ 4:03 AM,
21 Comments:
- At 1:40 AM, crushdew said...
-
jadi penasaran sama si tampan berbaju biru...
- At 3:07 AM, yati said...
-
owww....hahaha, jadi inget jaman ngebrik dulu :p banyak kisah najisnya....huahahaha...
- At 4:40 AM, iway said...
-
woooo pantesan alat ngebrik dulu disembunyiin om saya, ternyata bisa buat nyari yang tampan-tampan :D
- At 4:45 AM, venus said...
-
halah halaaaahhh...ngebreak ya? hwahahaha...jadul benerrrrr....gila, itu taun berapaan yak? ckckck...
ah tapi kopi darat yang di warung jamu, manis sekaliii..sampe ikut deg2an :D - At 5:23 AM, danudoank said...
-
kayak cerpen dech ich :d. panjang tp bikin penasaran, meski saya udah nebak si sten tdk spt yg dia gambarkan.
- At 5:34 AM, TaTa said...
-
huaaaa...endingnya bagus banget.... terharu ....
- At 5:40 AM, Jeng Bauer said...
-
eh, gue dulu beneran suka dipanggil Ina, gara2 gak bisa bilang Endang.
Gua sampe sekarang, msh alergi dgn kopi darat Fit...makanya, msh terbatas pada makhluk sesama jenis aja. - At 11:29 AM, mitora in life said...
-
xixixi... :P
kopi darat tuh emang bikin deg2an...
endingnya ringan, dan emang bs ditebak, tp sweet enough... :) - At 4:48 PM, Hedi said...
-
+ ada cinebine baru yg bisa dicopy ga? ganti!
- ga ada bok, ganti!
+ ya udah, cerio 76, roger! - At 10:51 PM, andi bagus said...
-
kopi darat..kenapa yah ?? saya juga kebingungan..ada yg tahu ??
- At 1:16 AM, mata said...
-
iya,... papa beruang disini memanggil bunga mawar, apa bisa dikopi gitu ganti... zz,z,ZzZ.z.zZz.z.ZZZ
kangennnn deh... sekarang malah ngeblog sama ngechat :))
kapan kopi darat sama diriku fit..? ;;) - At 1:28 AM, Iman Brotoseno said...
-
never have that kind of kopi darat experience he he padahaldulu juga main Orari...even sekarang di blogging..sepertinya ada ketakutan bahwa ekspektasi yang berlainan ketika kopi darat, apapun itu bentuknya.
- At 2:56 AM, senny d'ordinary said...
-
nggak tau knp gue nggak gt suka sama yang namanya kopi darat... umm..., takut kecewa kali ya! takut org yang ditemuin t'nyata dlm dunia nyata nggak banget (bkn scr fisik lho!)
- At 8:45 AM, gita igiets said...
-
Aduhhhh... kisahnya happy ending gituh..
Jadi pengen..
Mau donk ketemu pria berbaju biru (dalam versi yang lain, kali ini kenalnya via blog, bukan brik hihihihi...) - At 5:06 PM, -Fitri Mohan- said...
-
@crushdew: :D udah punya anak dua sekarang dianya dew.
@yati: embeeer. banyak najisnya!
@iway: iya. jadi, kapan mau nyari yang tampan2 way?
@venus: itu pas gue masih ingusan mbok. :D
@danudoank: fyi, ini bukan cerpen ya kang. a true story.
@tata: ending yang sebener2nya sih nggak bagus ta. ini memang aku pas-in aja endingnya disitu. ;)
@endang: kenapa alergi? ada pengalaman nggak enak?
@mitora: :)
@hedi: loooh, kok melarikan diri?
@andi bagus: aku tuh berharap ada yang bisa jawab disini ndi. :D
@mata: hahahahaha. siap papa beruang. sebentar lagi kita chat lagi yaa.
@iman: iya sih mas. bisa dimengerti.
@senny: :)
@gita: ;) - At 11:25 AM, MOMMO said...
-
itu cerita mbak fm yaks?? trus siapa pemudanya itu??? kok ceritanya bikin penasaran sih?????? lanjutin dong, kasih part II atau kalo perlu sampe part time, hehhehe pasti ngikutin :D
- At 4:45 AM, ndahdien said...
-
whoaaa mau dunx ending-nya=P~
sebenernya yg berkhasiat jamunya apa si-kakak ya?? - At 12:17 PM, Deee... said...
-
duuh ternyata kopi darat itu ketemuan sama orang yang udah lama kenal tapi belum ketemu muka...
wahhh seruu ya, duh maap ya saya gak tau maklum amatiran blognya baru bin...hehehe..:)
tukeran link yuk mba fitri....
saya dessy(still jobsekeer...) dari jakarta.... - At 11:40 PM, -Fitri Mohan- said...
-
@mommo: si anak SMP dan jerawatan itu diriku mo. ;)
@ndahdien: ya jamunya lah yaaaw. hahahaha.
@dee: hai des! nice to know you. - At 12:41 AM, yoxx said...
-
penipuan apa ada yang indah, mbak?
- At 12:46 AM, -Fitri Mohan- said...
-
@yoxx, sense the context yaa.










