Kekonyolan Minggu Ini
Sunday, May 25
1. Menonton film Indiana Jones dan keluar hanya dengan kesimpulan: bahwa Harrison Ford memang sebaiknya selalu memakai topi a la Indy, dan bahwa Steven Spielberg sedang doyan bikin film absurd.
2. Ngerokin Babe Ndut yang sedang sakit. Saat membuka kaosnya dan yang terlihat hanya punggungnya, ia berkata lirih dan penuh rasa sakit, “Punggung gue bagus kan? Seksi kan?”
3. Iseng-iseng menciumi handphone busuk saya yang sering mota-mati dan biasa saya setel vibrate itu dengan harapan dia akan sembuh dan nggak ngadat lagi. Pada saat menciumi handphone itu, ada yang nelpon dan vibrasi yang ditimbulkan si ponsel tak hilang-hilang dari mulut saya.
4. Menyaksikan rambut saya yang biasa pendek menjadi panjang sebahu dan terharu sendiri karenanya.
5. Menanyakan pada orang yang sedang sangat sibuk bekerja di Jakarta lewat chatting, “bubur Manado enaknya pakai singkong, ubi jalar, apa labu?” Dia menjawab singkong. Dan saya akhirnya memasak dengan ubi jalar dan labu.
6. Mendengarkan lagu Agnes Monica dengan Titi Dj yang berjudul Hanya Cinta Yang Bisa dan meneteskan air mata buaya.
7. Mengangkat seorang teman jauh menjadi seorang sahabat dekat dengan pengangkatan resmi melalui Gtalk, kemudian melakukan prosesi saling hina dengan khidmat dan penuh cinta kasih.
8. Menetapkan tahun 2008 sebagai tahun Naga.
9. Menunggu-nunggu film The Incredible Hulk sampai setiap kali bertemu posternya dimanapun, yang teringat selalu dia.
10. Membaca Night and Day-nya Virginia Woolf berkali-kali di halaman 318-319 dan merasakan bahwa Miss Woolf sepertinya tahu betul apa yang sedang terjadi pada saya.
Bagaimana dengan teman-teman?
read more ...
posted by -Fitri Mohan- @ 6:01 PM, ,
Satu Hari Saja?
Friday, May 9
Seperkasa-perkasanya seorang Ibu, dia butuh juga istirahat. Dan kalau masa istirahat itu tidak didapatkan, sangat wajar kalau sampai ada yang meledak. Menjadi sangat emosional, menjadi begitu payah meredam kemarahan. Bahkan untuk hal-hal kecil dan sangat sepele seperti: helai-helai rambut yang rontok dan ditemukan di lantai.
Disisi lain, seorang Ibu yang sudah stres seperti ini sering bukannya dapat bantuan, malah dihujani dengan peringatan, “Ingat anakmu. Bahaya kalau emosi di depan anak. Jaga dulu emosimu. Tahan.” Atau, “Gimana sih? Begitu saja kok diributkan. Dibersihkan saja. Selesai.” Atau, “Seorang Ibu itu seharusnya bisa menjaga perilakunya. Bijaksana dan mumpuni di segala suasana. Tidak perlu harus emosi.”
Hoiiiiiiii! Seperti juga rocker, IBU ITU JUGA MANUSIA!!
Saya memang belum pernah punya anak dan karena itu belum berhak mendapat kehormatan (dan sekaligus tanggung jawab besar) menjadi seorang Ibu. Tetapi saya tahu dan sangat mengerti betapa membebaninya sebuah pendapat (yang memang tidak tertulis tapi sudah jadi pengetahuan umum) bahwa: Ibu adalah pusat dan jantung sebuah keluarga. Tonggaknya. Ekstremnya: kiblat sebuah keluarga.
Don’t get me wrong. Pendapat itu memang adalah sebuah kehormatan. Dan itu muncul sudah dari jaman lalu. Saat yang namanya perempuan masih selalu ada di rumah. Terlepas dari berpendidikan atau tidak, perempuan yang selalu tinggal di rumah dan kemudian menjadi Ibu, adalah sebuah harta.
Bagaimana dengan sekarang? Sekarang tantangannya justru berlipat-lipat dari bertahun-tahun lalu. Kawasan Ibu sudah bukan hanya rumah. Pendidikan Ibu bukan cuma sampai saat ketika dipinang suami. Dunia sudah banyak berubah. Sementara tongkat dan kiblat keluarga masih tetap satu: Ibu.
Bapaknya kemana?
Ada yang bekerja dan berperan sebagai lelaki yang penuh tanggung jawab. Ada yang meninggalkan istrinya dan anak-anak demi perempuan lain. Ada yang kegatelan maunya dilayani dan masih tetap bisa tengok kanan dan kiri. Ada yang sudah sangat sadar gender dan moderat dalam berumahtangga. Ada yang sangat feodal dan menjengkelkan. Pendek kata, seorang bapak pasti ada. Dengan berbagai keadaan dan kondisi yang melingkupinya.
“Elu mah enak Pit, belum punya anak.”
“Buset. Gua mati-matian berusaha punya anak. Elu dengan kurangajarnya bilang ‘Elu mah enak belum punya anak’. Belum pernah disate lu?”
“Ya, coba deh. Kita kalau jalan berdua. Selalu aja yang dikira kakak tuh gue.”
“Itu karena tubuh perempuan kalau udah punya anak memang begitu. Jadi matang. Jadi ada aura keibuan.” Ini sepertinya sok tahu deh kalau mengingat Victoria Beckham yang beranak tiga tapi aura keibuannya dicari-cari tetap nggak ada.
“Punya anak itu capek. Asyik sih, tapi capek. Belum lagi kerja. Ngurus suami. Capek itu nggak bisa disembunyiin. Ngurus rumah tangga, kerja di luar dan bisa bilang Having Fun? Gue bayar lu lima juta deh kalau nemu orang begitu. Aku ngurusin diri sendiri aja suka nggak sempet. Untung suamiku nggak kegatelan. Kalo iya, udah kusate kali. Bukannya gue nggak bersyukur dengan keadaan gue sekarang ya. Tapi, beneran Pit. Gue kadang-kadang merasa capek banget. Pengen rasanya punya hari dimana gue tuh nggak perlu ngapa-ngapain kecuali duduk diem seharian dan baca buku tanpa ada gangguan ini atau itu. Pengen deh. Sehariiiiii aja. Atau seminggu deh, kalo boleh.”
Minggu Kedua di bulan Mei selalu diperingati sebagai Hari Ibu di Amerika. Di Indonesia jatuh tanggal 22 Desember. Hari ini, di tahun lalu, saya menyaksikan beberapa teman saya yang Ibu-Ibu berhari libur. Tanpa gangguan sama sekali? Nggak jamin deh. Ibu sepertinya sudah biasa menjadi seksi sibuk setengah peri yang dianggap bisa mengadakan ini dan itu dalam sekejap dan tidak meminta apapun kecuali memberi. Lagipula, gimana merasa terganggu kalau ada yang berteriak nyaring, "Mamiiiii, cucuuuuuuuu"?
Kadang-kadang seorang Ibu bahkan nggak tahu mana gangguan dan mana yang bukan. Ini karena sudah terlalu seringnya direpoti dan tidak merasa repot sama sekali. Tapi, jangan bikin seorang Ibu bete. Pada saat bete terjadi, hal-hal kecil bisa suangaaaaaat dianggap merepotkan. Sementara, sebaliknya, pada saat sedang ceria dan mood endang bambang, apapun yang merepotkan tidak terasa sama sekali.
Dan, pemandangan paling indah yang pernah saya lihat dari seorang Ibu adalah sinar mata yang berbahagia, untuk hal-hal yang sangat sepele sekali.
Saya ingat ketika memberi kue pada Ibu saya di tanggal 22 Desember bertahun-tahun lalu. Sebelumnya saya tidak mengijinkan beliau ngapa-ngapain kecuali luluran, pijetan, asyik-asyikan. Puncaknya, sore ada kue datang dengan tulisan I Love You Mama. Melihat mata beliau yang langsung berkaca-kaca begitu bikin saya jadi ikut berkaca-kaca.
“Ini Fitri ngapain pakai begini-begini? Ada-ada aja. Tapi makasih ya.”
Atau pada saat saya memberi kado baju tidur super tipis pada teman saya yang sudah bergelar Ibu juga,
"Nek, anak gue bisa nambah kalo gini caranya."
Selamat Hari Ibu buat semua! Semoga hari ini tidak hanya menjadi hari sekedar hadiah-hadiahan tanpa makna.
read more ...
posted by -Fitri Mohan- @ 9:22 AM, , links to this post
Madu Dan Racun
Setelah membaca buku Patrick Mathieu, kamu mengajakku duduk berempat dengan yang lainnya dan menanyakan hal yang sudah kutebak terinspirasi dari buku yang habis kamu baca itu, “Kapan kamu kadaluwarsa?”
Pertanyaanmu itu membuat ajang membikin resolusi di setiap akhir tahun menjadi basi (yang mana sudah terjadi kurang lebih seribu tahun cahaya yang lalu). Kamu tidak takut menetapkan kadaluwarsamu sendiri. Itukah yang kamu dapat setelah menulis surat kepada Tuhan kemarin?
“Tuhan, apa kabar? Akan kulaporkan hidupku kepadaMu. Aku meracuni orang untuk kemudian merusaknya. Dan jika sudah benar-benar rusak, aku akan meracuni orang lain lagi dan menungguinya sampai mati. Aku ingin semua yang aku sukai dan cintai teracuni dan mati. Supaya setelah itu, yang kusukai hanya Mu. Dan, kemudian, hanya engkau satu-satunya yang menjadi obsesi.” Lalu kamu tutup surat itu dengan pertanyaan mengenai jadwal matimu.
Aku tidak mau berpikir soal kadaluwarsa. Aku punya kecenderungan untuk tenggelam dalam pemikiran yang tidak mutu tentangnya. Aku masih normal, sehingga sering mengaitkan kekadaluwarsaan dengan ketidakbergunaan. Ketidakbergunaan sering kemudian aku identikkan dengan kematian. Meski harus kuakui, sering pula kusaksikan ketidakbergunaan dalam kehidupan.
Aku tidak mau menjadi seperti kamu. Yang meracuni banyak orang untuk kemudian menunggunya mati. “Apakah aku salah satu yang kamu racuni?” Kamu mengangguk, “Karena aku mencintaimu.” Oh Great. Dan aku tidak merasa kauracuni sama sekali. You super duper bastard.
Untuk V yang mencintai tanpa takut terlihat bego.
read more ...
posted by -Fitri Mohan- @ 6:59 AM, ,
Preambule
Sunday, April 20
Sebuah pembicaraan tanpa pembukaan, bagi saya, hanya bisa diciptakan dan berlangsung dalam sebuah chemistry yang sudah klik. Jika itu tidak ada, sudah dapat dipastikan pembicaraan akan berlangsung dengan sangat garingnya. Saya orang yang pada dasarnya – kata teman-teman saya- preman, jika sudah merasa nyambung. Kalau belum, mau sampai kapanpun, saya akan berlaku layaknya seseorang yang penuh etika dan adab adab yang kemudian bisa menjadi biadab.
Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang tidak saya kenal mengajak ngobrol lewat layanan chat. Begitu ngobrol, saya sebetulnya merasa nggak nyambung, terutama karena orang ini nggak pakai “preambule” itu tadi. Saya benar-benar nggak ngerti siapa orang ini. Kenal aja enggak, nanya-nanyanya udah ngalah-ngalahin polisi. Tentu saja saya nggak mau jawab. Siapa elu? Belum ketok pintu udah main selonong aja. Boro-boro beradab, saya akhirnya memilih jadi biadab.
Karena rasa suka atau tidak suka yang absolut adalah tidak mungkin di dunia ini, maka saya mau membalas sapaannya di pertemuan selanjutnya dengan “prasangka baik”. Setelah saya dan dia saling tahu masing-masing, barulah dia mulai sedikit agak berbudaya dan saya mulai keluar keasliannya (preman maksudnya). Akhirnya, kita malah sering ngobrol dan cekikikan nggak jelas. Nah, saya selalu suka jika sebuah pembicaraan sudah tidak butuh struktur. Ini berarti sudah masuk kelas akrab. Yang mana, dalam kasus saya, sebelum itu terjadi ya harus masuk pintu pembuka dulu.
Tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tiba-tiba sudah terasa klop sejak awal. Saya tidak tahu apa ukurannya selain perasaan. Tanpa babibu, kita sudah sibuk dengan bla bla bla bli bli bli sendiri. Terakhir-akhir baru nyadar, “Oh Gosh, we don’t even know each other. Hi, my name’s XXXX.”
Bicara soal preambule (nggak ada hubungannya sama that preambule), selalu berkaitan sama layer demi layer batasan orang membuka diri keluar. Ada yang layernya tipis, ada yang layernya tebal. Ada yang nggak pake layer. Nah, mengukur dan membuka lapisan pembuka orang adalah tantangan yang mengasyikkan.
Saya biasa menggunakan “ukuran” dari bukaan satu sampai bukaan empat (tidak pakai mengejan).
Dimanapun yang namanya rumah selalu berpintu. Saya rasa wajar jika pada pertemuan pertama saya menemui lapisan pelindung yang kokoh tertutup. Kalau di endusan pertama belum terbuka, saya akan menyimpan kesimpulan dini saya sampai waktu bertemu yang ke empat. Kalau pada pertemuan selanjutnya masih tertutup rapat, ya, saya akan melakukan pengintipan secara periodik dan terencana sampai, lagi-lagi, pertemuan keempat.
Jika pada pertemuan keempat masih tertutup juga, sayanya harus tahu diri dan mundur teratur untuk tidak melancarkan aksi masuk ke dalam jendela. Mungkin memang saya dan si pemilik pintu tertutup tidak berjodoh sebagai teman.
Beda ceritanya jika itu menyangkut pedekate. Bagi sebagian besar pengalaman teman-teman lelaki saya, aksi masuk ke dalam jendela adalah wajib fardhu ain, terutama jika si perempuan memang layak dikejar-kejar dan diruntuhkan hatinya. “Pintu yang tertutup semakin kuat adalah jalan petualangan yang tak tergambarkan. Pintu yang terbuka sebelum diketuk adalah jalan petualangan ‘yang lain’.” Dasar…
Tidak ada cara yang pasti untuk melakukan preambule. Semuanya sepertinya tergantung kemanusiaan (atau kesetanan) masing-masing. Reaksi terhadap jenis-jenis preambule itu juga tergantung dengan, lagi-lagi, kemanusiaan (atau kesetanan) masing-masing.
Ada beberapa teman saya, yang meskipun sudah sangat akrab, tetap setia dengan preambule, terutama untuk menyangkut hal-hal sensitif. Hal-hal ini tidak mengurangi kadar keakraban diantara kami.
“Bisakah aku bicara tentang ini denganmu?”
“Bolehkah aku bertanya?”
“Apakah perasaanmu sudah enak? Aku ingin bicara sesuatu.”
“Udaaaaaah, kamu mau ngomong ya ngomong ajaaaa. Kayak tamu deh kamu, masih cicit cuit nggak jelas gitu.” begitu biasanya respon yang muncul.
“Lah, kan kamu biasanya buas kalau nggak di-prikitiw duluan,” begitu lagi biasanya respon yang muncul.
Saya pernah mengajari keponakan saya bab kulonuwun ini. Salah seorang yang kemudian jadi kebablasan adalah Nisa, keponakan saya yang dulu kalau ngomong nggak pakai permisi. Dimanapun dia berkomunikasi dengan saya, dia selalu melakukan preambule-nya yang khas itu.
“Teta?”
“Ya?”
“Nisa mau bicara sebentar. Teta bisa dengerin nggak?”
“Tentu dong. Kenapa?”
“Begini Teta. Nisa itu heran deh sama kelakuan Sponge Bob akhir-akhir ini.”
Dan saya pun menahan diri untuk tidak melongo. Maka, saya akhirnya melakukan hal yang sama padanya.
“Nisa?”
“Ya?”
“Teta mau bicara sebentar. Nisa bisa dengerin nggak?”
“Ih, Teta lucu deh…” dan dia malah senyum-senyum nggak jelas gitu.
“Bisa nggak?”
“Bisa dooong.”
“Begini, Teta pengen dipijetin deh.”
“Aaaaaah, ini penipuaaaan.”
Sejak itu, kalau saya sudah pakai preambule ke keponakan saya, saya langsung ditinggal lari. Betul juga kata pepatah, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup keponakan takkan percaya.”
read more ...
posted by -Fitri Mohan- @ 1:06 PM, ,
Hair Quake Mariskova!
Tuesday, April 1

Banyak cara mengatasi frustrasi karena rambut. Dari mulai belajar mengetahui peta kepala dan rambut hingga berdoa agar tak menonjok si penata rambut saat hasil potongannya ternyata nauzubillah kacau. Tapi, si emak Hikari ini tidak begitu. Tidak tanggung-tanggung dan nggak pakai babibu, nggak pakai cerita blah bleh bluh bloh, nggak pakai woro-woro, tiba-tiba gubrak!!!.... rasa frustrasinya pada rambutnya dikeluarkan dalam bentuk buku.
Sungguh cara yang piawai, Mak. I’m so proud of you.
Kapan peluncuran bukunya? Kapan book tournya? Tanya saja pada si penulis bukunya langsung.
Kalau mau tahu gimana cara MJ nguplak-nguplek rambut jadi cerita, segera ke toko buku Gramedia dan beli bukunya ya!
Saya sih duduk manis saja disini. Dia sudah saya jampi-jampi agar buku tersebut nangkring dengan manis di depan rumah saya beberapa minggu lagi. Hihihihih. Ai Lap Yu Mak. Mmuuuahhh Mmmuuuaaaaaah.
read more ...
posted by -Fitri Mohan- @ 12:55 AM, ,









