Goodbye Michael Jackson


“Semua yang hidup pasti mati. Kita-kita tinggal tunggu giliran saja,” demikian komentar salah seorang kawan saat saya masih tidak percaya bahwa Michael Jackson, si King of Pop, dikabarkan meninggal dunia.

Bagaimana kita bereaksi terhadap kabar kematian, saya sadari sekali lagi, memang tergantung dengan seberapa besar sentuhan atau inspirasi dari si mangkat yang terasa pada tiap-tiap individu yang masih hidup.

Babe Ndut misalnya, bereaksi lempeng dan biasa. Baginya, Jacko sama seperti artis lainnya, yang tak pernah ia tahu dengan benar lagu-lagunya. Ia baru mendengar dengan sebenar-benarnya lagu-lagu MJ ketika sudah menjadi “inevitable roommate” saya dan mau tak mau berbagi playlist dengan saya, yang sebagian diantaranya adalah lagu-lagu MJ baik lama maupun baru.

Reaksi dia yang lempeng itu sama seperti yang saya alami ketika dia bersedih mendengar meninggalnya Giovanni Arrighi, seorang intelektual progresif dan professor Sosiologi dari John Hopkins University dua hari lalu, sosok yang buat saya tak bakalan membuat saya sesedih ketika mendengar Chrisye wafat.

Michael Jackson tak bisa dilepaskan dari masa-masa saya bertumbuh mengenal dunia. Lagunya yang pertama kali saya dengar adalah Ben (bersama Jackson Five) dan One Day in Your Life ketika saya masih belum masuk usia sekolah dasar. Saya ingat bagaimana saya tak habis-habisnya memencet tombol ‘rewind” di tape deck jaman jebot waktu itu, hanya untuk mendengar ulang lagu-lagunya. Bisa ditebak, tak berapa lama kaset-kaset itu rusak dan kemudian tak bisa dipakai.

Sejak itu saya diwanti-wanti dan ditegur dengan keras untuk tidak lagi main ‘rewind’ jika suka dengan lagu tertentu. “Sabarlah menanti”, demikian pesan Ibu saya.

Beranjak besar, lagu-lagunya hilir mudik di kehidupan saya, hingga album Dangerous keluar, yang membuat saya kemudian menjadi fans beratnya. Syair setiap lagu di album itu, trivia di balik setiap lagu, video klipnya, koreografi tarian, dan aksi panggung Michael Jackson tidak pernah luput jadi perhatian dan mengakibatkan saya memiliki ketertarikan baru untuk bergerak dan menari a la MJ (ajaran guru tari saya, Didik Nini Thowok, saat itu, terbang entah kemana). Membuat saya disindir Bapak saya, “Coba bisa nggak kalau baca Al Qur’an se-khatam seperti mendengar Michael Jackson. Berkali-kali dan heboh banget begitu,” yang saya tanggapi dengan akhirnya membaca Al Qur’an sembari mendengarkan Michael Jackson lamat-lamat sebagai backsound (hanya saya matikan saat ada tanda-tanda orangtua saya mengecek apa yang sedang dilakukan anaknya).

Tentu saja, kaset itu rusak lagi. Saat ada Om dan Tante yang datang dari jauh berkunjung dan menginap di rumah, saya menodong mereka untuk membelikan saya album Michael Jackson kepunyaan saya yang rusak (tanpa sepengetahuan Bapak Ibu saya tentunya). Mereka kemudian saya “beri imbalan” dengan cara menyuguhkan mereka tarian ala Michael Jackson dengan kaset yang baru saja dibeli. Dahi mereka berkerut-kerut dan senyum mereka berjudul geli tingkat maksimum melihat saya bergerak-gerak seperti itu.

Jika anak-anak muda jaman sekarang mengisi harinya dengan pacaran dan tangis-tangisan roman picisan najis bin menye-menye, kami pun najis dan menye-menye tanpa roman-romanan. Jika anak-anak perempuan muda jaman sekarang saling bersaing dan bahkan bermusuhan karena saling berebutan idola pujaan mereka di sekolah, kami sebaliknya saling berkunjung dan berbahagia disatukan dengan ketertarikan yang sama. Masa belia saya dan teman-teman saat itu begitu sehat tanpa saingan-saingan nggak mutu. Thanks to Michael Jackson.

Michael Jackson jugalah yang membuat saya dan teman-teman punya agenda heboh bersama. Tiap sore saling berkunjung ke rumah masing-masing dan mendengarkan lagu sambil berloncat-loncatan dan menari a la Michael Jackson. Saya juga ingat, ada beberapa teman yang tadinya saya tak kenal dekat, kemudian malah jadi saling bersilaturahmi dan menjadi teman baik.

Dimulai dari nyanyi bareng Black or White, Remember the Time, Heal The World, Gone Too Soon, sampai berdisko bareng a la King of Pop. Berteriak-teriak histeris saat video klipnya diputar di televisi. Mencucurkan air mata saat melihat ia di televisi dalam sebuah konser maha megah. Barangkali kalau ada langsung di sana, kami pun akan pingsan-pingsan mendengar dan melihat aksi panggungnya. Oh well, saya ternyata memang pernah muda dan bertingkah seperti itu tanpa rasa malu sama sekali (that’s the beauty of being young, I guess).

Setelah masa itu lewat, album HIStory keluar dan Michael Jackson tetap menemani hari-hari.

Ketika didaulat jadi koreografer tari kolosal untuk perpisahan SMA, yang ada di benak saya adalah Michael Jackson, meskipun lagu yang terpakai adalah Kembalikan Baliku-nya Yopie Latul. Ketika saya mengikuti Festival Tari Kreasi Modern SeDIY-Jateng, Michael Jackson pun berada di kepala saya saat saya merencanakan koreografinya dan menggondol posisi kedua dalam kejuaraannya. Ketika saya patah hati, You’re Not Alone membuat saya merasa tak sendiri. Ketika saya rindu pada masa kecil saya, saya teringat bagaimana Michael Jackson dengan begitu indah dan pas menggambarkannya dalam Childhood, membuat saya malah jatuh kasihan pada sosoknya. Ketika dalam perjalanan berpiknik ke Bali bersama teman-teman, lagu Will you Be There jadi lagu mars yang kami nyanyikan sambil merem melek najis tapi begitu menggetarkan seluruh badan.

Begitu saya meninggalkan masa-masa remaja, saya masih saja teringat masa belia setiap kali mendengarkan lagu-lagu Michael Jackson dan mau tak mau selalu menyunggingkan senyum lebar, bahkan sesekali tawa. Dua lagu yang paling baru darinya, Break of Dawn dan One More Chance, juga lagu lama yang tak pernah bosan saya dengarkan, One Day in Your Life, Someone in The Dark dan Childhood, masih menjadi lagu yang terputar setiap kali saya memencet playlist “Slowing Down The Day”. Terimakasih atas teknologi digital, tak perlu lagi ada kisah kaset rusak.

Kenangan bersama Michael Jackson telah membuat saya memiliki episode hidup yang penuh dan berwarna. Dia ada dalam hidup saya dan menemani hari-hari hiperaktif saya. Meskipun ada saat dimana saya lalu merasa bingung “kok ada orang begini ini di dunia dan gue ngefans pula” berkaitan dengan operasi besar-besaran pada tubuhnya, pigmen di kulitnya, tindak-tanduknya yang super aneh untuk ukuran bersosialisasi yang saya kenal, tetapi saya harus berterimakasih padanya, atas lagu-lagunya yang tak cuma mampir, tapi melekat dan punya arti khusus buat saya.

Goodbye Michael Jackson. Have fun in other world. I will keep you in my playlist, as long as I live.

picture from here

read more ...

posted by -Fitri Mohan- @ 12:25 AM, , links to this post


Seperti Kupu-Kupu

Jika ini adalah panggung penerimaan Oscar, dan aku didaulat untuk maju ke depan (nggg, untuk menerima piala “menelantarkan blog hingga berdebu sampai tumbuh bulu-bulu”), aku akan tersenyum begitu lebar dan merayakan banyak hal, lalu mulai mengucapkan terimakasih tanpa menyebutkan nama-nama.

Sebagai gantinya, aku akan memandang mereka, si nama-nama yang tak kunamai ini, dan menaruhnya ke dalam bilik di hatiku atau sekedar menjadikannya asesoris di lemari pintu, yang bisa kubuang sewaktu-waktu, tapi menjadikanku belajar banyak dari situ.

Terima kasih kepada kamu. Ya, kamu. Yang sudah menyaksikan begitu banyak keterpurukan di sekitarmu dan masih bisa memilih untuk tak peduli dan melengos begitu saja pada hal-hal sensitif yang membunuh peri kemanusiaanmu. Yang lupa pada berjibunnya manusia tak berdaya. Dan yang merasa bahwa itu pun adalah bagian dari kemanusiawianmu.

Terima kasih kepada kamu. Ya kamu. Yang tak pernah lupa menyitir ayat-ayat, mengajak yang lain untuk beribadah dan meraih berkat. Yang mengurusi akhlak dan sikap dan tindak tanduk umat. Tapi tak sekalipun bergerak untuk mengurusi kebobrokan para pejabat. Biarlah korupsi berjalan seriangnya. Biarlah kemiskinan tetap kekal abadi. Biarlah kekerasan terhadap perempuan menjadi lestari. Biarlah militerisme dan cara-cara preman berjaya dalam urat nadi.

Terima kasih kepada kamu. Ya kamu. Yang tak memiliki keberpihakan apapun kecuali tempat teraman. Yang tak pernah meresikokan apapun kecuali jalan teraman. Dan dengan tenang kau akan terus berada di antara orang-orang. Orang-orang yang tak tahu kau itu ada untuk apa, kecuali rasa aman.

Terima kasih kepada kamu. Ya kamu. Yang untuk hidup esok hari pun, tak tahu dari mana kekuatannya. Tutup mata atas segala hal di dunia dan bergerak semaksimal mungkin dalam segala cara untuk menyelamatkan kehidupan diri sendiri dan barangkali juga keluarga. Di benakmu kautahan kutukan-kutukan pada penderitaan hidup. Di doamu kaupanjatkan harapan-harapan untuk tak jadi redup. Karena hidup sudah begitu tak tertahankan, dan merenungi diri sendiri pun bahkan sudah jadi sebentuk kemewahan.

Terima kasih kepada kamu. Ya kamu. Yang tak lelah mengobarkan semangat pada diri sendiri. Bahwa mimpi-mimpi, cita-cita dan ambisi pribadi akan teraih dalam kesempurnaan. Bahwa dari sini akan muncullah hidup yang bisa dikenang dan diingat. Dijadikan cerita untuk cucu dan cicit di masa tanpa tenggat.

Terima kasih kepada kamu. Ya kamu. Yang tak lelah mengobarkan semangat pada diri dan orang lain. Yang rela mengorbankan hidup untuk sesuatu yang kaupercayai. Yang meresikokan hidup dan mengalami kehilangan-kehilangan, lalu penemuan-penemuan, lalu penciptaan-penciptaan. Dan percaya bahwa dunia yang lebih baik bisa ada, bisa nyata.

Terima kasih pada kamu. Ya kamu. Yang mencintai hidup dalam kesejatiannya. Yang berdarah-darah melampaui semua rintangan dan mensyukuri kemenangan-kemenangan kecil maupun besar. Yang selalu bersyukur akan orang-orang yang memompa semangat-membangun-menjaga-melindungi-menghadirkan dirimu dalam kehidupan. Dan juga bersyukur akan orang-orang yang menjegal-meracau-mengebiri-meniadakanmu dalam hidup dan menganggap mereka sebagai episode yang membuatmu kaya, menjadikanmu manusia yang sempurna dalam warna.

Aku menemukan semua kamu dalam jalanku. Dan seperti kupu-kupu, aku siap terbang. Terima kasih padamu, sekali lagi, yang membekaliku dengan wawasan yang masih akan kurenungi hingga akhir tiba. Kini, aku siap mengepakkan sayapku, ke tempat yang penuh pengertian baru.

read more ...

posted by -Fitri Mohan- @ 8:57 PM, , links to this post


Romeo Juliet

Hadirilah, Nikmatilah, Enjoykanlah, Tontonlah: sebuah film tentang cinta dua insan manusia berbeda “aliran perbolaan”, Romeo Juliet, Karya Andibachtiar Yusuf, yang akan hadir serentak 23 April 2009 di 21 Cineplex dan Blitz Megaplex.










PS. Tik, promosi sudah kujalankan. Kutunggu selalu “itu”nya yak *wink wink*. Sukses untuk film fiksi pertamamu ini.

read more ...

posted by -Fitri Mohan- @ 10:17 AM, , links to this post


Foto Keluarga yang Menyesatkan

Berwajah lebih muda dari usia sebenarnya adalah anugerah, betul? Tadinya saya memang merasa begitu. Tadinya…

Suami saya, Babe Ndut, punya teman yang selama ini cuma mengetahui saya dari obrolannya dengan si Babe. Suatu saat karena Babe Ndut sedang berhalangan ketemu si teman ini padahal ada sesuatu yang kudu diambil di kantornya, otomatis sayalah yang diutus Babe Ndut untuk mengambilnya. Begitu ketemu saya, wajah si teman ini tak bisa menipu saya: kaget dan seperti tidak menyangka.

“Are you Mrs. Pontoh?”
“Yes, I am.”
“….. Nice to meet you.” Yup, pakai acara ternganga sejenak beberapa detik. And he couldn’t even hide it!!!!!

Setiap kali saya berjumpa dengan teman suami, kekagetan dan keterkesimaan ini tak bisa dihindari. Bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki siapa saja teman suami yang pertama kali ketemu saya, langsung ikutan ngobrol seru dan berbicara ngalor ngidul tak habis-habis. Kepada mereka-mereka ini, saya lalu jadi sangat sayang dan dekat.

Kali lain, seorang teman lagi yang usianya jauh di bawah saya, perempuan muda yang dandanannya sophisticated yang sudah mengenal suami saya duluan sebelum saya. Begitu ketemu saya, dia nggak ada pasang wajah kaget atau apa. Tapi di lain waktu dia bertemu Babe Ndut, dia mengeluarkan komentar begini:

“Mbak Fitri itu mukanya kayak anak kecil banget ya.”

Babe Ndut cuma tersenyum menanggapinya. Pada saat menceritakannya pada saya, Babe bilang gini, “Tapi emang dia keliatan lebih tua banget dibandingin elo.” Good point of view.

Ada satu peristiwa yang baik saya dan Babe Ndut mengenangnya dengan sangat baik dan selalu tertawa terbahak-bahak setiap membicarakannya. Kejadiannya kurang lebih dua tahun yang lalu, saat kami berdua mengunjungi sebuah bazaar.

Ada seorang teman yang baik saya dan Babe Ndut sama-sama nggak terlalu kenal dan cuma sering say Hi doang. Dia juga tampaknya tidak tahu bahwa kami adalah pasangan suami istri. Saya dan Babe Ndut memisah sebentar untuk cari-cari makanan yang masing-masing kami sukai. Di ujung sana, Babe Ndut ketemu dia dan ngobrol basa-basi bentar. Lalu, si teman ini akhirnya ketemu saya dan ngobrol deh kami sekilasan. Beberapa saat kemudian, Babe Ndut menuju ke arah saya sambil menenteng plastik berisi belanjaan. Begitu sampai ke tempat saya, si teman ini nyeplos ke Babe:

“Oooh, Om? Fitri itu anak Om ya?”

Muka merah Babe Ndut segera saya selamatkan, dengan berkata, “Huss, dia suami guee!”

Pulang dari bazaar, Babe Ndut sepanjang jalan bertanya terus pada saya dan jadi sangat self conscious.

“Gue tua banget ya?”
“Enggak,” hibur saya.
“Iya ya gue tua banget.”
“Enggak kok. Guenya yang kemudaan. Guenya yang nggak normal.”
“Iya nih, elu sih kemudaan mukanya,” kata Babe Ndut kemudian dengan santainya. Saya membiarkannya berekspresi penuh kemenangan, yang tentu saja dia bikin untuk meledek saya.

Ada teman-temannya Babe Ndut yang lainnya lagi, yang cukup pandai menyimpan penilaiannya ke dalam diri mereka sendiri, tapi saya tahu kalau mereka sebetulnya sedikit “terkesima”.

Untuk wajah nan “bijaksana” seperti yang dipunyai suami saya, memang wajah saya yang “bijaksini” ini jadi terasa mengkhianati “kebijaksanaan” Babe Ndut. Belum lagi suami saya orang yang sangat serius, DI SETIAP SITUASI. Berbeda dengan saya yang baru serius kalau memang suasananya mengharuskan saya untuk serius. Kalau dalam suasana biasa saja, ngapain serius-serius? Well, saya kira ini soal pembawaan aja. Nggak ada yang lebih benar atau jadi salah. Menurut pengakuan Babe Ndut sendiri, dia baru bisa bercanda dan baru ngerti betapa enaknya jadi orang yang nggak selalu serius, setelah bertemu dengan saya. (Gosh..)

Dari pihak teman-teman saya, kurang lebih hal yang sama terjadi pula. Kaget sedikit, sampai kaget banyak. Tapi karena mereka orang-orang yang sama frekuensinya dengan saya, dan banyak dari mereka yang sudah ngerti gimana saya (dalam artian: they know me so well I don’t have to explain myself), mereka nggak pernah sampai mengeluarkan komentar,

“Mas Coen itu mukanya kayak kakek-kakek ya Fit.”

Tidak, bukan. Saya tidak sedang mengeraskan perbedaan saya dan suami dari segi politik, budaya, hidup, gaya berhumor, gaya bicara, sampai segi lay out dan usia. Memang kami berbeda, tapi nggak segitu-gitunya. Usia saya dengan Babe Ndut juga nggak selisih banyak sebenarnya. Cuma beberapa tahun aja. Tapi memang “anugrah” yang saya punyai ini membuatnya jadi tampak lebih tua berkali-kali lipat. Sementara perwajahan Babe Ndut membuat saya jadi terlihat kekanak-kanakan berkali-kali lipat.

Parahnya, teman-teman masing-masing dari kami jadi punya “kesimpulan” yang lucu dan kadang bikin geli (kadang bikin pengen nggorok juga).

“Mas Coen bakalan betah nggak kalo ntar kumpul-kumpul sama kita?” Seolah-olah Babe Ndut adalah artefak purbakala yang nggak bisa gaul, dan karena diajak gaul, maka terkontaminasi, lalu mati.

atau,

“Fitri itu tahan nggak kalau kau tinggal lama gitu Coen?” Seolah-olah saya adalah anak kecil yang kalau ditinggal sebentar saja maka akan mengoek-oek dan merengek-rengek, lalu mati.

Tanpa bermaksud apa-apa, saya membandingkan lay out saya dengan teman-teman saya waktu masih belia dulu yang saat ini sudah berumahtangga dan beranak pinak pula. Ada yang jadi tampak dewasa sekali, ada juga yang masih tetep setia dengan wajah anak-anaknya (meskipun udah beranak dua biji). Secara umum, wajah teman-teman seumuran saya memang biasanya sudah bermetamorfosa jadi ibu-ibu betulan. Wajarnya memang begini. Normalnya memang demikian. Di samping itu, para suami mereka juga berwajah satu nada. Wajah mereka jika dibingkai dalam foto keluarga, tidak akan menyesatkan mata siapapun yang melihatnya.

“Oh, ini suaminya.”
“Oh, ini istrinya.”

Nggak mungkin akan jadi,

“Ini….. anaknya?”
“Ini…. bapaknya?”

Nah, kalau saya ber-lay out seperti mereka, mungkin tidak akan ada kisah-kisah seperti yang saya sampaikan di atas.

Hal ini nggak cuma terjadi sekali dua kali. Tapi seringgggg. 

Kalau pas waras, saya biasanya cuek aja dan nggak memusingkan apa-apa. Hidup terlalu indah untuk mikirin kesan-kesan pertama yang ditangkap orang lain. Yang penting jadi diri sendiri, beres. Tapi kalau pas lagi nggak waras, sering terbit keinginan di saya maupun di Babe Ndut untuk menggolok dan menggorok orang-orang yang into appearance itu. Sewajar apapun sebetulnya alasan mereka.

Saya sempet ngenes ketika mendengar Babe Ndut pengen beli baju blink-blink (and I don’t even like the blink-blink!), hanya agar bisa mengimbangi “mudanya” saya yang sebenernya udah uzur ini. Atau Babe Ndut yang juga sempet ngenes ketika mendengar rencana saya mau memanjangkan rambut dengan alasan, “agar nampak tua” dengan maksud mengimbangi ketuaannya. Bisa deh dibayangkan, bagaimana setelah rambut saya panjang tergerai, ketemu temen di jalan, dan komentarnya adalah: “Fitriiii, kamu keliatan muda belia banget siiih dengan rambut panjangmu ituuuu!”

Jadi diri sendiri selalu lebih enak, bukan begitu? Mari kita lihat sejauh mana adonan “kemudaan” dan “ketuaan” itu akan berujung. 

“Dalam bingkai yang menyesatkan itu, elo bisa dibilang meniru jejak Syeh Puji. Memperistri anak-anak. Gimana pendapat loe?” tanya saya pada Babe Ndut. Serius.

“Kalo gue sih asyik aja pokoknya selama dia kagak nyenggol gue… Watawwwwww,” jawab Babe Ndut sambil menggoyang-goyangkan tangannya seperti rapper.

read more ...

posted by -Fitri Mohan- @ 6:23 PM, , links to this post


Tentang Hari dan Harap

Bukan. Ini bukan kisah dongeng tentang orang bernama Hari dan Harap. Walau boleh juga kalau mau dicerna demikian.

Ini tentang sebuah hari yang penuh harapan. Dari saya, untuknya.

Saya memanggilnya Mamak.
Dia panggil saya Nenek.

Dan panggilan itu dimulai karena keajaiban teknologi. Yang bisa menyambungkan Jepang dan New York dalam cerita berbagi.

Pertama membacai blognya, saya tergelak dengan sense of humornya yang sering membuat saya nyengir panjang tak henti-henti. Saya membayangkan alangkah asyiknya ngobrol berdua dengannya sambil ngopi (dia) dan ngeteh (saya).

Bayangan saya tercapai lewat layar chat yang baik hidup dan matinya layar tak ada yang bisa menjamin itu. Meskipun tak jelas kapan byar dan kapan pet nya, anehnya, saya selalu mengharap-harapkan dia byar kembali, sekalipun itu ternyata baru terkabul satu bulan setelahnya, yang pada saat itu pun, satu menit kemudian…. pet kembali (terutama setelah ia pulang ke kota macet yang tercinta).

Tapi ke-byar-pet-an itu ternyata nggak ngaruh apa-apa pada kami, selain saya jadi rajin menuduh bahwa dia memang terlalu rajin bekerja, dan dia pun rajin membalas bahwa sayalah yang terlalu rajin bekerja. Di luar semua tuduhan itu, saya masih sering mengharap-harap suatu saat bisa melihat tulisan tangannya atau mendengar suaranya.

Barangkali dia mendengar keinginan saya yang dangdut itu. Maka buku pertamanya datang ke depan rumah saya dengan tulisan tangan dia yang nangkring di halaman depan bukunya. Dan, setelah sekian lamanya, akhirnya saya mendengar suaranya di sebuah radio internet, dalam acara promosi bukunya yang kedua.

Dia mengingatkan saya bahwa tenaga “dalam” seorang perempuan memang sungguh luar biasa. Selain bekerja setiap hari menembus jalanan Jakarta yang sungguh rapi jali dan lancar jaya itu (yang membuat setiap manusia Jakarta menjadi lebih produktif dan bebas stres tentunya), ia masih harus mengurus anak dan suami, dan masih menyempatkan pula berkarya dengan menerbitkan buku-bukunya.

Satu hal yang membuat saya merasa senasib dengannya, adalah riwayat hubungannya dengan rumah sakit, yang sama dan sebanding dengan saya.
“Gue kena tipes.”
“Eh sama! Sebelumnya gue kena diare.”
“Eh sama!”

Atau,

“Gue sering nyeri di perut sebelah kanan.”
“Sama. Tapi itu dulu, pas gue kena usus buntu.”
“Wah, gue udah kena tuh. Dan udah operasi juga.”
“Sama, gue juga udah dioperasi.”

Ya, kami dua orang yang bisa membicarakan penyakit dengan senyum lebar seperti berlomba memamerkan prestasi siapa yang paling banyak bikin dokter pusing atau malah hapal keberadaan kita di rumah sakit. Berbincang soal sakit tak ada bedanya membicarakan Keanu Reeves (dia), dan Edward Norton (saya).

Mungkin urat khawatirnya soal sakit sudah putus. Tapi tidak begitu dengan saya saat mendengar dia dengan kadar eosinofilnya yang tinggi itu suatu hari yang lalu.

Saat dia menulis dengan bercanda bahwa bisa jadi dia hanya punya waktu dua tahun lagi gara-gara eosinofil yang tinggi itu, saya menangis sesenggukan. Saya sampai berdoa semoga dia sedang berada dalam tahap iseng tingkat tinggi.

“Ya, nanti deh gue periksa. Kalo sempet.” Ini jawaban dia pada saat saya konfirmasi dan saya paksa buat bikin janji dengan dokter. Jawaban yang lempeng dan santai ini bikin saya terus terang takut. Dan karena takut inilah, saat dia OL, saya kemudian tertawa-tiwi kacau, hanya agar dia tidak tahu bahwa saya gundah.

Di titik inilah, saya makin mengerti jejaknya di hati saya.

Saya menuliskan ini di dinding facebook-nya, pada 8 Maret 2009 ini waktu Indonesia barat (di saya masih Sabtu siang): “Happy Birthday, Mariskova! I really want you to be happy and healthy.”

Di usianya yang baru ini, saya hanya ingin melihatnya datang ke dokter yang memeriksa sampai tuntas dengan niat, dan segera berobat cepat-cepat.

Do you hear me, Mak? I really want you to be happy, and HEALTHY.

Love,
Nenek.

Ps. Komentar berisi ucapan selamat ulangtahun bisa dialamatkan ke sini. Jika boleh saya minta tolong juga, mohon agar mbak/mas dan temans sudi kiranya ikut mengingatkan dia untuk agak serius sedikit berobat ke dokter. Terimakasih banyak.

read more ...

posted by -Fitri Mohan- @ 10:52 AM,